Urgensi Praktik Moderasi Beragama di Masa Kini
Oleh: Dr. Muhammad bin Abdul Karim al-Issa
Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia (MWL)
Wahai kaum muslimin rahimakumullah,
Kami berbahagia berada di tempat mulia ini, di tanah Indonesia yang tercinta negeri yang dikenal dengan identitas persatuannya, yang mampumemadukan antara pemeliharaan nilai luhur dan kerukunan dalamkeberagamannya.
Indonesia telah menjadi teladan peradaban dalam menjaga harmoni sosial.
Kami berbahagia dapat menyampaikan nilai-nilai agung dan prinsip kokohyang dibawa oleh agama kita. Nilai-nilai ini menjadi sebab kokohnya masyarakat Islam sepanjang sejarah nilai persatuan, kerukunan, dan kerja sama.
Agama Islam adalah agama persatuan dan kasih sayang. Ia menyeru untukberpegang teguh pada tali Allah yang menyatukan hati, menyucikan jiwa, dan meninggikan akhlak sehingga membentuk perilaku muslim yang luhur.
Seorang muslim sejati adalah “akhlak yang berjalan di atas bumi”. Peristiwa dan tantangan tidak membuatnya terguncang, tetapi justru menambah keteguhan, kebijaksanaan, dan keluhuran.
Maka jadilah kita semua teladan Islami yang mulia, benteng kokoh akhlakyang mempererat hati, berbuat baik kepada manusia, mengikuti petunjuk Nabi kita Muhammad SAW yang diutus untuk menyempurnakan akhlakdan menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Di antara adab mulia Islam adalah berbuat ihsan kepada seluruh manusia. Ihsan adalah nilai tertinggi dalam Islam. Allah SWT berfirman didalamQS.Al-Baqarah ayat 195 :
....وَاَحْسِنُوْا ۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ ١٩٥
Artinya : Berbuat baiklah, Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.
Dan Allah SWT berfirman didalam QS.Arrahman ayat 60 :
هَلْ جَزَاۤءُ الْاِحْسَانِ اِلَّا الْاِحْسَانُۚ ٦٠
Artinya : Balasan kebaikan itu hanyalah kebaikan pula
Nilai ini, jika mengakar kuat dalam jiwa, akan melahirkan perilaku Islam yang luhur. Bila nilai-nilai tersebut menjadi karakter masyarakat, maka urusan umat akan menjadi baik karena masyarakat tersusun dari individu-individu yang merupakan “batu bata” pembentuk umat.
Jika masyarakat muslim lurus, mereka akan mampu mencapai tujuan-tujuan besarnya, terutama persatuan umat. Persatuan yang dimaksud adalah persatuan atas perkara-perkara besar yang menjadi kepentingan seluruh umat Islam, terutama dalam memperkuat makna kesatuan, kepentingan bersama, dan tujuan tertinggi berupa kedekatan, pemahaman, serta kerja sama. Dengan itu, umat dapat tampilsecara kuat dan bermartabat di kancah global.
Tantangan besar yang terus dihadapi umat adalah kampanye kebencianterhadap Islam (Islamofobia). Hal ini semakin meningkat hingga PBB menetapkan tanggal 15 Maret sebagai Hari Internasional Melawan Islamofobia.
Adapun perbedaan ijtihad dan peraturan internal tiap negara, itu adalahkekayaan umat, bukan sebab perpecahan.
Jika seluruh umat hanya mengikuti satu pendapat saja, hilanglah keluasandan kelenturan syariat yang dibangun di atas kemudahan, toleransi, dan kemaslahatan yang berbeda sesuai zaman, tempat, dan keadaan.
Wahai kaum mukminin rahimakumullah
Nilai-nilai Islam bukan sekadar ungkapan, melainkan sebuah tanggung jawab syar’i dan suatu kebutuhan yang mendesak, terutama di era yang penuh tantangan saat ini.
Indonesia dengan sifat moderat dan harmonis bukan hanya menunjukkannilai ini, tetapi juga menjadi bukti konkret dari keberhasilanimplementasinya.
Islam hadir untuk menyatukan, bukannya memecah. Al-Qur’an dan Sunnah dipenuhi dengan instruksi untuk berpegang teguh pada tali Allah dan larangan tegas terhadap perpecahan.
Sebagaimana Allah SWT berfirman didalam QS Al-Imran ayat 103:
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖوَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ …. ١٠٣
Artinya : Dan berpeganglah kamu semuanya pada tali Allah, dan janganlah bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika dahulu kalian saling bermusuhan, lalu Allah satukan hati-hati kalian sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara
Dan di dalam firman-Nya QS Al-Anbiya ayat 92 :
اِنَّ هٰذِهٖٓ اُمَّتُكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةًۖ وَّاَنَا۠ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْنِ ٩٢
Artinya : Sesungguhnya umat kalian ini adalah umat yang satu, dan Aku adalah Tuhan kalian.
Maka kaum Muslimin adalah satu umat, yang disatukan oleh Tuhan yang satu, nabi yang satu, dan kiblat yang satu. Inilah prinsip-prinsip jamaah yang tidak diperselisihkan.
Allah SWT menjelaskan bahwa persatuan hati merupakan karunia yang tak ternilai, bahkan ditegaskan didalam QS. Al-Anfal ayat 63 sebagai berikut,
وَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْۗ لَوْاَنْفَقْتَ مَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مَّآ اَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ اَلَّفَ بَيْنَهُمْۗ اِنَّهٗ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ ٦٣
Artinya : Dia (Allah) mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Seandainya engkau (Nabi Muhammad) menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya engkau tidak dapat mempersatukan hatimereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Dan Nabi Muhammad SAW menggambarkan umat ini seperti satu tubuh :
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَعَاوُنِهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِنْ اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
Artinya : Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling tolong-menolong, kasih sayang, dan simpati mereka adalah bagaikan satu tubuh; jika satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh merasakannya, baik dengansusah tidur maupun demam.
Beliau juga bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Artinya : Tidak beriman seseorang sampai ia mencintai saudaranyasebagaimana ia mencintai dirinya.
Dan kebaikan ini diperluas untuk seluruh manusia sebagaimana Nabi Muhammad SAW menyatakan :
أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى اللهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya : Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.
Wahai kaum muslimin rahimakumullah
Liga Dunia Islam, sebagai naungan umat, telah berkali-kali memperingatkan bahaya fanatisme, pengelompokan,perbedaan mazhabatau pemikiran tidak boleh menjadi alasan perpecahan.
Jika pintu dialog tertutup dan kelompok hanya sibuk dengan dirinya sendiri, maka muncul kecurigaan, perpecahan, dan bahkan kelompokekstrem yang mengatasnamakan Islam.
Umat kini menghadapi tantangan global yang berusaha memecah belahnya. Karenanya diperlukan kesadaran penuh dan persatuan. Kekuatan umat terletak pada persatuannya dan kemampuannya menghadirkan wajah Islam yang moderat, adil, dan merangkul.
Ya Allah, tunjukilah kami dan jadikan kami petunjuk bagi orang lain. Jadikan kami pembuka kebaikan dan penutup kejahatan. Satukan kata kami di atas kebenaran.