Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat Istiqlal: Menanamkan Nilai-Nilai Patriotisme Untuk Memperkuat Ketahanan Nasional RI

Admin 07 Nov 2024 Warta Istiqlal

(Intisari Khutbah Jum’at, 06 Jumadil Ula 1446 H / 08 November 2024 M)

Oleh : KH. Ahmad Juraidi, MA
(Dosen UIN dan PTIQ Jakarta)
 

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Kaum Muslimin jama’ah shalat Jum’at rahimakumullah. Sebagai ungkapan rasa syukur kita atas limpahan rahmat dan nikmat Allah yang teramat banyak, marilah kita bertekad untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada-Nya dengan senantiasa berupaya melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya.

Semoga dengan bertaqwa, Allah subhanahu wata'ala akan memberikan kepada kita jalan keluar dari setiap permasalahan yang kita hadapi.

Kaum Muslimin rahimakumullah. Tema khutbah kita kali ini adalah: “Menanamkan NilaiNilai Patriotisme untuk Memperkuat Ketahanan Nasional RI”. Melalui bahasan tema ini kiranya akan dapat menginspirasi dan memotivasi kita untuk berkontribusi memperkuat ketahanan nasional bangsa dan negara yang kita cintai.

Kaum Muslimin jama’ah shalat Jum’at yang dirahmati Allah.

A. Pengertian Patriotisme 

Pengertian patriotisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah paham dan semangat kecintaan serta kesetiaan yang besar kepada tanah air. Hal ini berarti seseorang yang memiliki patriotisme akan rela berkorban apa saja demi kejayaan dan integritas tanah air atau bangsanya. Kata “patriotisme” berasal dari kata “patriot,” yang berarti pencinta dan pembela tanah air.

Dengan demikian, seorang patriot adalah mereka yang memiliki semangat cinta tanah air yang mendalam. Dan seorang patriot sejati adalah pejuang bangsa yang memiliki semangat, sikap, dan perilaku cinta tanah air. Mereka rela mengorbankan segala yang mereka miliki, bahkan jiwa dan raga mereka, demi kemajuan, kejayaan, dan kemakmuran tanah airnya.

B. Ciri-ciri Patriotisme

Patriotisme memiliki beberapa ciri yang dapat dikenali. Ciriciri tersebut mencerminkan semangat dan sikap seorang patriot dalam kehidupan sehari-hari. Di antaranya adalah:

  1. Cinta Tanah Air: Seorang patriot memiliki cinta yang mendalam terhadap tanah airnya. Mereka merasa bangga dan punya rasa memiliki (sense of belonging) terhadap negara mereka. Bahkan ada nilai transendental yang mendinamisasi cintanya, karena mencintai tanah air itu sebahagian dari iman (hubbul wathan minal iman).
     
  2. Rela Berkorban: Seorang patriot siap untuk berkorban apa pun demi kejayaan dan kemakmuran tanah airnya. Mereka tidak ragu untuk mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran, bahkan nyawa mereka;
     
  3. Berjiwa Pembaharu: Seorang patriot memiliki semangat untuk memajukan bangsa dan negara mereka. Mereka aktif dalam mencari solusi dan berkontribusi dalam pembangunan dan kemajuan bangsa dan negaranya;
     
  4. Pantang Menyerah: Seorang patriot tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan. Mereka memiliki ketekunan dan kegigihan untuk terus berjuang demi bangsa dan negaranya.

C. Patriotisme dalam Pandangan Islam

Di antara ayat Al-Quran yang berbicara tentang patriotisme dan nasionalisme adalah firman Allah dalam Surat at-Taubah ayat 86 - 89 sebagai berikut:

Artinya : “Dan apabila diturunkan suatu surat (yang memerintahkan kepada orang munafik itu): "Berimanlah kamu kepada Allah dan berjihadlah beserta Rasul-Nya", niscaya orangorang yang sanggup di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata: "Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk (86). Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak berperang, dan hati mereka telah dikunci mati. Maka mereka tidak mengetahui (kebahagiaan beriman dan berjihad) (87). Akan tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka, dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung (88). Allah telah menyediakan bagi mereka syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar (89)”.

Menurut Tafsir Ibnu Katsir, dalam ayat 86 Surat At-Taubah ini Allah subhanahu wata'ala mengingkari dan mencela orang-orang yang tidak ikut berjihad dan enggan melakukannya, padahal ia berkemampuan dan mempunyai keluasan serta biaya untuk itu. Lalu mereka meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk tidak ikut dan diperbolehkan duduk di tempat tinggalnya. Mereka mengatakan:

وَاِذَآ اُنْزِلَتْ سُوْرَةٌ اَنْ اٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَجَاهِدُوْا مَعَ رَسُوْلِهِ اسْتَأْذَنَكَ اُولُوا الطَّوْلِ مِنْهُمْ وَقَالُوْا ذَرْنَا نَكُنْ مَّعَ الْقٰعِدِيْنَ

Artinya: Apabila diturunkan suatu surah (yang memerintahkan orang-orang munafik), “Berimanlah kepada Allah dan berjihadlah bersama Rasul-Nya,” niscaya orang-orang yang berkemampuan di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata, “Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk (tinggal di rumah).” (QS. At-Taubah [9]:86)

Mereka rela diri mereka beroleh ’aib karena tinggal di negeri, dan duduk di rumah tidak ikut berperang bersama-sama kaum wanita, setelah pasukan kaum muslim berangkat. Dan apabila peperangan terjadi, maka mereka adalah orang yang paling pengecut.

Namun, apabila keadaan telah aman, maka mereka adalah orang-orang yang paling banyak bicara. Inilah mereka yang tidak memiliki sifat patriotisme dan nasionalisme. Perihal mereka sama dengan apa yang dikatakan oleh seorang penyair:

Artinya : “Apakah, dalam situasi aman mereka gemar mencela, kasar, dan keras; sedangkan dalam keadaan situasi perang mereka lebih mirip dengan kaum wanita yang penakut”.

Kaum Muslimin rahimakumullah. Adapun mereka yang memiliki sifat patriotisme dan nasionalisme seperti yang digambarkan pada ayat 88 dan 89 Surat at-Taubah ini:

لٰكِنِ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ جَاهَدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْۗ وَاُولٰۤىِٕكَ لَهُمُ الْخَيْرٰتُ ۖوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ (88) اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ ࣖ (89)

Artinya : “Akan tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka, dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”.

Rasul dan orang-orang yang beriman bersama beliau, mereka berjihad dengan harta dan jiwa demi menegakkan kalimat Allah dan semata-mata mengharap keridaan-Nya. Mereka itu memperoleh kebaikan, baik di dunia berupa kemenangan dan kemuliaan, maupun di akhirat kelak berupa kesenangan surgawi. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Dorongan sifat patriotisme di dalam diri orang-orang mukmin membuat mereka tidak akan malas dan enggan berperang, dan juga tidak bakhil memberikan harta kekayaan mereka untuk berjihad fisabilillah. Mereka percaya bahwa berjihad fisabilillah itu akan mendatangkan kebaikan yang banyak bagi mereka dan kaum muslimin.

Kebaikan-kebaikan yang banyak itu adalah berupa kemenangan, tingginya kalimah Allah, tegaknya keadilan dan kebenaran. Mereka percaya, bahwa mereka akan mendapat kabahagiaan di dunia dan di akhirat. Di dunia menjadi orang yang mulia dan terhormat, sedang di akhirat mendapat balasan surga Jannatunna’im yang penuh dengan kesenangan dan kenikmatan yang abadi. Di dalamnya mengalir sungai-sungai yang menyejukkan. Kesenangan dan kebahagiaan yang berlimpahlimpah itu diberikan Allah kepada orang-orang mukmin. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ ࣖ

Artinya: "Allah telah menyediakan bagi mereka surga yang sungai-sungai mengalir di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang agung." (QS. At-Taubah [9]:89)

D. Patriotisme dalam konteks Indonesia

Dalam konteks Indonesia, untuk melihat sifat patriotisme dan nasionalisme kita bisa bercermin kepada para pahlawan kusuma bangsa yang oleh bangsa Indonesia setiap tanggal 10 November diperingati sebagai “Hari Pahlawan.”

Kalau kita cermati, setidaknya ada dua hal yang dimiliki oleh para pahlawan itu. Pertama, mereka memiliki pahala kebajikan yang sangat banyak. Bagaimana tidak, semua yang mereka miliki berupa harta, tenaga, pikiran, dan nyawa sekalipun mereka korbankan untuk kemerdekaan bangsanya. Maka pastilah mereka itu orang yang memiliki pahala yang sangat banyak. Ahli bahasa ada yang mengakatan bahwa Pahlawan itu berasal dari kata Pahala dan Wan. Artinya orang yang memiliki pahala.

Kedua, para pahlawan itu mereka adalah orang-orang yang terbanyak silaturrahimnya. Bukankah di masa penjajahan silaturrahim (tali kasih sayang) itu terputus, dan sengaja diputus oleh pihak penjajah dengan politik devide et-impera, adu domba dan pecah belah untuk mengekalkan jajahannya.

Dengan perjuangan para pahlawan lah kemerdekaan dapat direbut kembali, sehingga tali kasih sayang bisa berkembang, bahkan terhubung silaturrahim dari generasi ke generasi, sampai kepada kita saat ini, insya Allah sampai generasi yang akan datang, selama-lamanya. Jadi, mereka para pahlawan adalah orang-orang yang terbanyak silaturrahimnya.

Pantaslah mereka dipanjangkan umurnya sesuai hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

Artinya : “Siapa yang ingin diluaskan rezekinya, dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah dia menyambung silaturrahim”.

Kaum Muslimin rahimakumullah. Di dalam Al-Quran ada dua ayat yang serupa menjelaskan tentang kelompok manusia yang dianggap tidak mati, meskipun faktanya mereka sudah wafat. Allah berfirman:

وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَنْ يُّقْتَلُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتٌ ۗ بَلْ اَحْيَاۤءٌ وَّلٰكِنْ لَّا تَشْعُرُوْنَ

Artinya: "Janganlah kamu mengatakan bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (mereka) telah mati. Namun, (sebenarnya mereka) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya." (QS. Al-Baqarah  [2]:154)

Di dalam Surat Ali ‘Imran ayat 169 Allah berfirman :

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتًا ۗ بَلْ اَحْيَاۤءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَۙ

Artinya: “Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sebenarnya, mereka itu hidup dan dianugerahi rezeki di sisi Tuhannya.” (QS. Āli ‘Imrān [3]:169)

Kedua ayat di atas memberikan pemahaman kepada kita bahwa ada kelompok manusia yang walaupun mereka telah wafat, tetapi mereka sesungguhnya tidak mati dan tetap hidup, di sisi Tuhan mereka senantiasa mendapat rezeki.

Siapakah mereka? Mereka itu adalah orang-orang yang gugur di jalan Allah, yaitu para syuhada, orang-orang yang mati syahid dalam peperangan memperjuangkan tegaknya kebenaran, mempertahankan keyakinan, membela hak hidup umat manusia, membela tanah air, kedaulatan bangsa dan negaranya. Dalam konteks Indonesia, para pahlawan kusuma bangsa yang ikhlas dalam perjuangan dan pengorbanannya in sya Allah termasuk dalam kelompok mereka yang difirmankan Allah tersebut.

Kaum Muslimin, jama’ah ahalat Jum’at yang dirahmati Allah. Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar mengatakan bahwa yang tidak pernah mati itu adalah nilai-nilai yang mereka perjuangkan berupa kebenaran, keadilan dan kebajikan, selamanya akan tetap hidup, dan akan selalu diteruskan oleh generasi pejuang selanjutnya sampai kapan pun.

Kalau demikian, kita pun bisa menjadi pahlawan atau seperti pahlawan, dengan mengikuti jejak mereka dan mewarisi sifat patriotisme yang mereka memiliki. Senantiasa berpihak kepada kebenaran dan keadilan, berupaya memiliki pahala sebanyak mungkin, dan menyambung serta menebar kasih sayang silaturrahim seluas-luasnya.

Dengan demikian, Allah senantiasa akan melimpahkan rezeki dari sisi-Nya melalui do’a-do’a yang dipanjatkan orang-orang yang hidup setelah kita secara terus menerus sepanjang masa, sebagaimana para pahlawan yang senantiasa kita do’akan dari generasi ke generasi. Itulah kehidupan yang indah, kehidupan yang berkualitas, kehidupan yang tetap produktif meskipun kita nanti telah tiada. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.