Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat: Menanam Kasih dalam Pendidikan Umat

Admin 28 Nov 2025 Warta Istiqlal

Oleh: Prof. Dr. H. Ahmad Tholabi Kharlie, S.H., M.H., M.A.
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Anggota Dewan Pendidikan Tinggi (DPT)

Jemaah yang dirahmati Allah. Salah satu pilar utama yang Allah tegaskan dalam Al-Qur’an adalah kemuliaan ilmu dan ketinggian derajat orang-orang berilmu. Allah berfirman dalam QS. Al-Mujadalah ayat 11:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

Al-Mujādalah [58]:11

Ayat ini bukan sekadar pengakuan atas keutamaan ilmu, tetapi juga penegasan bahwa ilmu adalah instrumen peradaban, penopang kemuliaan manusia, dan jalan penyucian jiwa. Namun pertanyaannya, bagaimana ilmu itu diberikan? Bagaimana prosesnya sehingga pengetahuan dapat hadir, dipahami, lalu mengangkat manusia?

Hadirin yang berbahagia. Kita sering mendengar bahwa Al-Qur’an turun kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melalui Malaikat Jibril. Penjelasan ini memiliki landasan kuat dalam Qur'an Surah al- Syu‘ara ayat 193 -194 :

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْاَمِيْنُ ۙ  (193) عَلٰى قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُنْذِرِيْنَ ۙ (194)

Artinya: "Ia (Al-Qur’an) dibawa turun oleh Ruhulamin (Jibril). (Diturunkan) ke dalam hatimu (Nabi Muhammad) agar engkau menjadi salah seorang pemberi peringatan." (QS. Asy-Syu‘arā' [26]:193-194)

Jika direnungkan dari perspektif teologi dan epistemologi, Allah sebagai Zat Yang Mahakuasa tentu mampu menyampaikan wahyu secara langsung tanpa perantara. Namun, Allah memilih mekanisme pengajaran, berupa wahyu disampaikan melalui seorang guru, yakni Malaikat Jibril.

Di sinilah letak hikmahnya, bahkan Nabi pun tidak menerima ilmu secara langsung, tetapi melalui proses pembimbingan. Maka bagaimana mungkin manusia biasa, yang dibatasi kemampuan akal dan jangkauan pemahamannya, mendapatkan ilmu tanpa seorang pendidik?

Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah. Pelajaran besar yang tersirat di sini adalah bahwa kehadiran guru adalah keniscayaan, bukan sekadar pelengkap. Guru menjadi jembatan epistemologis, memastikan kebenaran ilmu, membimbing murid dari ketidaktahuan menuju pemahaman.

Apa yang dilakukan Jibril, sebagai penyampai wahyu dengan penuh amanah, menjadi prototipe pekerjaan guru.

Fondasi pendidikan dalam Islam telah ditegaskan sejak detik pertama risalah diturunkan. Wahyu pembuka, Qs. al-‘Alaq ayat 1 - 5, bukan sekadar perintah membaca, melainkan gambaran utuh tentang cara manusia membangun peradaban melalui ilmu. Ayat-ayat ini memuat tiga prinsip fundamental pendidikan yang relevansinya justru semakin kuat di tengah dinamika zaman sekarang.

Pertama, iqra’. Perintah ini bukan sekadar aktivitas membaca teks, tetapi ajakan untuk membuka diri terhadap pengetahuan dalam bentuk apa pun: membaca realitas, membaca pengalaman, membaca tanda-tanda Allah di alam, dan membaca perjalanan diri. Iqra’ menuntut keterlibatan aktif, yakni belajar bukan karena didorong, tetapi karena kesadaran untuk terus tumbuh. Inilah prinsip pendidikan yang menghidupkan rasa ingin tahu, membangun kemandirian belajar, serta melahirkan insan yang tidak cepat puas dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya.

Kedua, ‘allama bil-qalam. Allah menegaskan bahwa ilmu itu diajarkan “dengan pena”, yakni melalui media yang memungkinkan pengetahuan ditata, ditulis, dan diwariskan lintas generasi. Di sinilah Islam memberi legitimasi kuat bagi tradisi dokumentasi, literasi, dan metodologi. Pendidikan bukan sekadar menyampaikan ide secara lisan, melainkan menyusun pengetahuan secara sistematis sehingga dapat dipelajari, dianalisis, dan dikembangkan. Prinsip ini mengajarkan bahwa peradaban hanya akan kokoh ketika berdiri di atas fondasi ilmu yang terdokumentasi dan terstruktur.

Ketiga, ‘allamal-insāna mā lam ya‘lam. Ayat ini mengingatkan manusia tentang posisi epistemologisnya. Manusia pada hakikatnya tidak mengetahui apa-apa kecuali melalui proses belajar. Kesadaran ini melahirkan kerendahan hati intelektual, sebuah sikap yang harus terus dipupuk, baik oleh murid maupun guru. Manusia dibentuk oleh pengalaman belajar yang panjang, bertahap, dan berkesinambungan. Karena itu, pendidikan dalam Islam tidak berhenti pada transfer informasi, tetapi mengantarkan manusia untuk terus memperbaiki diri, menguatkan akhlak, dan mengembangkan potensi yang dianugerahkan Allah.

Dengan tiga prinsip ini, yakni: iqra’ sebagai dorongan belajar aktif, qalam sebagai simbol pengetahuan terstruktur, dan kesadaran bahwa manusia belajar dari ketidaktahuan, menunjukkan Islam membangun kerangka pendidikan yang komprehensif. Inilah pesan mendasar yang perlu terus dihidupkan dalam keluarga, sekolah, dan seluruh ruang sosial kita, agar pendidikan tidak sekadar melahirkan orang pintar, tetapi melahirkan manusia yang beradab, rendah hati, dan terus haus pada kebaikan ilmu.

Jemaah yang dirahmati Allah. Di setiap tanggal 25 November, bangsa kita memperingati Hari Guru Nasional. Peringatan ini harus kita letakkan sebagai momentum reflektif untuk memahami kedudukan guru dalam konstruksi keilmuan Islam. Setidaknya terdapat tiga makna filosofis yang dapat kita renungkan ketika memperingati Hari Guru. Ketiganya berakar kuat dalam tradisi keilmuan Islam.

Pertama, Hari Guru memvalidasi pentingnya “perantara ilmu”. Dalam tradisi Islam, ilmu selalu hadir melalui perantara yang terpercaya. Tanpa guru, transmisi ilmu terputus, sama seperti risalah tidak akan sampai jika Jibril terputus dari Nabi. Hakikat keterhubungan inilah yang menjaga otoritas pengetahuan.

Guru menjadi mata rantai yang memastikan bahwa ilmu berpindah secara benar, tidak terdistorsi, dan tetap berada dalam koridor adab. Karena itu, penghormatan kepada guru bukan sekadar tradisi Timur, tetapi bagian dari struktur epistemologi Islam: ilmu tidak turun begitu saja, ia diturunkan melalui ahlinya.

Kedua, Hari Guru mengafirmasi bahwa peradaban lahir dari pengajaran. Tidak ada peradaban yang berdiri tanpa guru. Seluruh bangunan keilmuan, baik ayat-ayat Al-Qur’an yang kita baca hari ini, fikih yang menata perilaku umat, hingga pendidikan karakter yang membentuk akhlak generasi, semuanya berakar dari proses ta‘lim, dari upaya para mu‘allim yang mengajarkan, membimbing, dan membentuk cara kita memahami dunia. Karena itu, menghormati guru pada hakikatnya adalah menghormati usaha panjang umat manusia dalam membangun peradaban ilmu.

Ketiga, Hari Guru menjadi pengingat akan sifat pedagogis Jibril, al-Ruh al-Amin. Sifat amanah, kelembutan, keteguhan, dan kasih sayang, semuanya adalah sifat pedagogis yang menjadi teladan bagi guru. Profesi guru bukan semata pekerjaan, tetapi amanah moral.

Integritas menjadi ruh yang menyinari seluruh proses pendidikan. Guru yang mengajarkan tetapi tidak memberi teladan moral, ibarat lampu yang terang di luar namun redup di dalam. Jibril mengajarkan bahwa pengetahuan yang disampaikan harus dibingkai dengan kesetiaan pada kebenaran dan rahmah pada penerimanya.

Maka, penghormatan terhadap guru bukanlah penghargaan sosial belaka. Ia merupakan bagian dari maqāshid al-syarī‘ah, yakni upaya kolektif untuk memelihara ilmu (hifzh al-‘ilm). Selama guru dihormati, selama itu pula ilmu akan hidup, adab akan bertahan, dan peradaban akan terus menemukan jalannya menuju kebaikan.

Jemaah yang dirahmati Allah. Selain guru, unsur lain yang tidak kalah penting adalah kurikulum. Kurikulum bukan daftar mata pelajaran, tetapi orientasi dasar pendidikan. Dalam perspektif Islam, kurikulum ideal harus melampaui transfer informasi (ta‘lim) menuju pembentukan jiwa (tazkiyah).

Jibril turun bukan sekadar membawa teks wahyu, tetapi membawa cahaya yang menyucikan hati Nabi. Dari sini kita memahami: ilmu harus turun ke hati, bukan hanya ke kepala. Karena itu, kurikulum yang kita perlukan adalah kurikulum berbasis cinta, kurikulum yang menjadikan cinta sebagai prinsip utama.

Apa sesungguhnya bentuk cinta dalam pendidikan? Pertanyaan ini penting, karena pendidikan tanpa cinta hanya akan menjadi rutinitas kering, tanpa ruh, tanpa arah, tanpa daya untuk membentuk manusia. Dalam perspektif Islam, setidaknya ada tiga wujud cinta yang menjadi fondasi bagi tumbuhnya proses pendidikan yang utuh.

Pertama, cinta kepada sesama manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan:

Artinya : “Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

Dalam konteks pendidikan, hadis ini meletakkan etika relasi antara guru dan murid. Pendidikan tidak boleh dibangun atas rasa takut, tekanan, atau hukuman semata, melainkan atas dasar mahabbah, cinta yang meluruhkan jarak psikologis, membuka pintu kepercayaan, dan melahirkan komunikasi edukatif yang sehat.

Guru yang mencintai muridnya akan mengajar dengan kesabaran, kelembutan, dan empati. Murid yang merasa dicintai akan belajar dengan hati yang lapang, bukan karena terpaksa. Di sinilah cinta menjadi energi yang menyuburkan proses pembelajaran.

Kedua, cinta kepada alam dan lingkungan (hifzh al-bi’ah). Allah memerintahkan:

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

(QS. Al-Qaṣaṣ [28]:77)

Ayat ini menegaskan bahwa alam adalah amanah ilahi. Merusak lingkungan tidak hanya persoalan etika ekologis, tetapi juga bentuk pengkhianatan terhadap ayat-ayat Allah yang terbentang di semesta. Karena itu, kurikulum pendidikan harus melahirkan generasi yang mencintai bumi, yang hemat energi, menghargai keberlanjutan, menjaga kebersihan, dan sadar bahwa kelestarian lingkungan adalah syarat terjaganya kehidupan. Pendidikan cinta lingkungan berarti mendidik manusia yang berbuat baik kepada bumi sebagaimana bumi telah menyediakan kehidupan bagi mereka.

Ketiga, cinta kepada tanah air (hubbul-watan). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri memperlihatkan kecintaan yang mendalam kepada Makkah, tanah kelahirannya:

Artinya : “Demi Allah, engkau (Makkah) adalah sebaik-baik bumi Allah dan bumi yang paling Allah cintai. Andaikan aku tidak diusir darimu, aku tidak akan keluar” (HR. Tirmidzi, No. 3925).

Kecintaan kepada tanah air bukanlah nasionalisme kosong. Ia adalah ekspresi syukur atas tempat di mana kita hidup, beribadah, belajar, dan membangun masa depan. Pendidikan yang menanamkan cinta tanah air berarti mendidik generasi yang menjaga kedaulatan bangsa, menghormati hukum, menghargai keberagaman, dan berkomitmen memajukan peradaban. Tanah air dicintai bukan karena sempurna, tetapi karena ia adalah medan tempat kita menunaikan amanah sejarah.

Maka, cinta dalam pendidikan bukan konsep abstrak. Ia hadir dalam kasih antarmanusia, dalam kepedulian ekologis, dan dalam kesadaran kebangsaan. Ketiganya membentuk fondasi kokoh bagi pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan dan membangun peradaban.

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.