Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat: Etos Kerja dan Keikhlasan dalam Islam

Admin 19 Jun 2023 Warta Istiqlal

Oleh : Kombes Pol. (Pur) Dr. KH. Muh Yayah Agil, M.Ag
(Intisari Khutbah Jum’at, 27 Dzulqa'dah 1444 H / 16 Juni 2023 M)

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Puji dan syukur kita sampaikan kepada Allah subhanahu wata’ala atas rahmat dan ridha- Nya kita dapat melaksanakan shalat Jumat berjamaah di Masjid Istiqlal. Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarganya dan sahabat-sahabatnya serta kepada kita sekalian selaku umatnya.

Selaku khatib saya mengajak mari kita tingkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala dengan berusaha merawat keimanan kita dengan baik dan selalu meningkatkan ketakwaan kita dengan berusaha melaksanakan semua perintahnya dan meninggalkan larangan-laranganNya. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata'ala dalam QS. Ali Imran ayat 102 :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim”. (QS. Ali Imran [3] ayat 102)

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah subhanahu wata'ala. 
Adapun tema khutbah Jumat hari ini adalah “Etos Kerja dan Keikhlasan dalam Islam”. Etos kerja dalam Islam tidak hanya dilandasi kebutuhan duniawi. Etos kerja dalam Islam bukan hanya untuk memuliakan diri namun juga manifestasi amal shaleh. Artinya, bekerja harus berlandaskan pada prinsip-prinsip iman yang menunjukkan fitrah seorang muslim. Bekerja juga harus bisa meninggikan martabat seorang muslim di hadapan Allah subhanahu wata’ala.

Salah satu perintah Allah subhanahu wata’ala kepada umatNya untuk bekerja termaktub dalam QS. at-Taubah ayat 105 berikut ini:

وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ

Artinya : “Dan Katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. At-Taubah [9]: 105)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mencontohkan etos kerja dalam Islam untuk umatnya. Rasulullah menjadikan kerja bukan untuk menumpuk kekayaan, namun sebagai aktualisasi keimanan dan ketakwaan demi meraih ridha Allah Subhanahu wata’ala.

Pekerjaan yang dilakukan pun kelak akan diminta pertanggung jawaban di akhirat, apakah ada hal yang buruk turut dilakukan demi mendapatkan uang seperti mencuri, korupsi, menipu atau melakukan pekerjaan yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Seseorang yang makan dari hasil keringatnya sendiri, lebih utama dibanding dengan orang yang makan dari pemberian orang lain, apalagi jika ia masih kuat bekerja, sehat, dan memiliki akal.

Karena itu meminta-meminta alias mengemis adalah pekerjaan yang hina di mata Islam. Hadis berikut ini menjadi dalilnya: “Sungguh seorang dari kalian yang memanggul kayu bakar dengan punggungnya lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya atau menolaknya” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Kerja memiliki nilai yang sangat tinggi. Dalam beberapa hadist, Rasulullah mengatakan sebaik-baiknya orang adalah yang makan hasil kerja dengan tangannya sendiri. Bahkan, terdapat sebuah hadist qudsi yang menerangkan bahwa ada dosa yang hanya bisa dihapus dengan cara mencarikan nafkah untuk keluarga dan orang yang ditanggungnya. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa bekerja untuk anak dan istrinya melalui jalan yang halal, maka bagi mereka pahala seperti orang yang berjihad di jalan Allah” (HR. Bukhari).

Bekerja dan beramal shalih adalah salah satu jalan mendapatkan rahmat dari Allah subhanahu wata'ala yang bisa mengantarkan kepada surga.

فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَيُدْخِلُهُمْ رَبُّهُمْ فِيْ رَحْمَتِهٖۗ ذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْمُبِيْنُ

Artinya : “Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Tuhan akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya (surga). Itulah kemenangan yang nyata.” (QS. al-Jatsiah [45]: 30).

Kaum muslimin yang berbahagia. 
Bekerja yang didasarkan pada prinsip-prinsip iman bukan saja menunjukkan fitrah seorang muslim, melainkan sekaligus meninggikan martabat dirinya sebagai hamba Allah subhanahu wata'ala yang didera kerinduan untuk menjadikan dirinya sebagai sosok yang dapat dipercaya, menampilkan dirinya sebagai manusia yang amanah, menunjukkan sikap pengabdian sebagaimana firman Allah subhanahu wata'ala:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Artinya : “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzaariyat [51]: 56).

Seorang muslim yang memiliki etos kerja adalah mereka yang selalu obsesif atau ingin berbuat sesuatu yang penuh manfaat yang pekerjaan merupakan bagian amanah dari Allah subhanahu wata'ala. Sehingga dalam Islam, semangat kerja tidak hanya untuk meraih harta tetapi juga meraih ridha Allah subhanahu wata’ala.

Hal yang membedakan semangat kerja dalam Islam adalah kaitannya dengan nilai serta cara meraih tujuannya. Bagi seorang muslim bekerja merupakan kewajiban yang hakiki dalam rangka menggapai ridha Allah Subhanahu wata’ala.

Sudah menjadi kewajiban manusia untuk berusaha memenuhi kebutuhan dan kepentingan dalam kehidupannya. Seorang muslim haruslah menyeimbangkan antara kepentingan dunia dan akhirat. Untuk menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat, wajiblah seorang muslim untuk bekerja.

Seseorang yang bekerja layak untuk mendapatkan predikat yang terpuji karena prestasi kerjanya. Karena itu, agar manusia benar-benar “hidup”, ia memerlukan spirit. Oleh karena itulah al-Qur’an diturunkan sebagai spirit hidup, sekaligus sebagai nur (cahaya) yang tak kunjung padam.

Beberapa etos kerja Islami yang perlu dimiliki dan dibudayakan antara lain :

1.Ikhlas dan Jujur dalam Bekerja

Makna terminologis ikhlas adalah bersih tanpa pamrih kecuali semata-mata mencari ridha Allah subhanahu wata'ala. Sementara jujur, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia Poerwadarminta adalah “Lurus hati, tidak curang. Kejujuran: kelurusan hati, ketulusan hati” (W.J.S.Poerwadarminta, 1982 : 425)

Setiap pekerjaan yang dilaksanakan dengan ikhlas akan bernilai ibadah. Maka agar pekerjaan kita bernilai ibadah, yang pertama dan paling utama adalah nawaitu, niatkan “bahwa saya bekerja mencari nafkah ini, semata-mata karena Allah, memohon ridhaNya”. Juga dalam rangka melaksanakan perintahNya, antara lain dalam Qur'an surat al-Mulk/67 ayat 15 sebagai berikut:

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ

Artinya : “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan hanya kepadaNya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. (QS. al-Mulk [67] ayat 15)

Bekerja ikhlas ialah kerja lillaahi ta’ala, karena Allah subhanahu wata'ala, bukan karena riya, riya an naash, karena manusia, atau karena sebab-sebab yang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu :

Artinya : “Barangsiapa mencari dunia yang halal untuk menjauhkan diri dari minta-minta, dan usaha keluarganya, dan untuk bisa berbuat baik kepada tetangganya, akan dibangkitkan Allah pada hari kiamat sedang mukanya bagaikan bulan purnama. Dan barangsiapa mencari dunia yang halal untuk memperbanyak (menumpuk) sombong dan riya, maka akan bertemu dengan Allah pada hari kiamat, sedang Allah murka padanya” (Kitab Tanbiihul Ghoofiliin, hal. 162).

2. Menghargai Waktu

Waktu adalah suatu misteri kehidupan yang sepenuhnya menjadi rahasia Ilahi. Waktu yang telah dilalui tidak mungkin lagi dapat diulang walau hanya sedetik. Oleh karena itu alangkah mubadzirnya apabila waktu disia-siakan, berlalu tanpa arti. Sedemikian pentingnya waktu, sampai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan.

لاَتَصُب. الدَّهْرَ فَإِنّ الدَّهْرَ هُوَ الله

Artinya : “Jangan sia-siakan waktu sebab waktu adalah milik Allah”.

Dalam semangat kapitalisme orang barat bersemboyan bahwa “time is money” (waktu adalah uang), sementara pepatah Arab mengatakan bahwa “al waqtu kassaif” (waktu ibarat pedang), yang akan menebas siapa saja yang tidak bisa memanfaatkannya dengan baik.

“Waktu adalah aset Ilahiyah yang sangat berharga, ladang subur yang membutuhkan ilmu dan amal untuk diperoleh dan dipetik hasilnya pada waktu yang lain” (Toto Tasmara, 1994 : 33).

3. Memiliki Jiwa Kepemimpinan

Memimpin berarti mengambil peran secara aktif mempengaruhi orang lain agar bersikap dan berbuat sesuai dengan keinginan kita. “Kepemimpinan berarti kemampuan untuk mengambil posisi dan sekaligus memainkan peran (role), sehingga kehadiran dirinya memberikan pengaruh pada lingkungannya” (Toto Tasmara, 1994 : 29).

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ࣖ

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi Muhammad) serta ululamri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunahnya) jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhir. Yang demikian itu lebih baik (bagimu) dan lebih bagus akibatnya (di dunia dan di akhirat).” (QS. an-Nisaa’ : 59).

Kepemimpinan tidak hanya wajib dipunyai oleh mereka yang memiliki jabatan tertentu, namun juga wajib dipunyai oleh setiap orang. Agama mengajarkan bahwa setiap orang adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.

Dalam pada itu pengalaman membuktikan bahwa walaupun sifat-sifat kepemimpinan bisa dipelajari, namun ada orang-orang yang sejak lahir sudah dianugerahi dengan bakat kepemimpinan yang mumpuni. Oleh karena itu di samping ilmu, kepemimpinan juga memiliki aspek seni tersendiri.

4. Kreatif dan inovatif

Tantangan abad ke duapuluh satu demikian besar. Dalam era globalisasi dan informasi ini persaingan bebas tidak bisa dihindari, sehingga tidak ada jawaban lain kecuali selalu berupaya melakukan pengembangan diri dan menimba ilmu pengetahuan. Selalu kreatif dan inovatif. Prinsip “long life education” betul-betul harus dilaksanakan sebagaimana pesan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahad”.

Allah subhanahu wata'ala juga mendorong manusia untuk berpikir agar dapat menghasilkan sesuatu yang baru dan inovatif termasuk dalam pelayanan. Bahkan amat banyak dalam teks-teks sumber wahyu yang mendorong untuk berpikir secara kreatif dan inovatif dengan menggunakan kalimat "afalaa ta'qiluun, atau kalimat afala tatafakaruun..." dan lebih banyak lagi.

اَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ اَنْفُسَكُمْ وَاَنْتُمْ تَتْلُوْنَ الْكِتٰبَ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ

Artinya : “Mengapa kamu menyuruh orang lain untuk (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca kitab suci (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?” (QS. al-Baqarah : 44).

Tentu masih ada etos-etos kerja Islami lainnya. Namun dengan empat macam etos kerja tersebut di atas, apabila dihayati serta diamalkan dengan sebaik-baiknya, niscaya akan sangat besar peranannya dalam meningkatkan kinerja seorang pekerja Muslim dalam upaya meraih sukses. Tidak saja sukses di dunia tetapi juga sukses di akhirat.

Semoga Allah subhanahu wata'ala memberikan kekuatan lahir batin kepada kita, untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik dan selalu ikhlas sehingga dengan keihklasan tersebut berbuah kebaikan. Semoga kita tetap istiqamah menuju ridhanya. Selamat hari jadi Kota Jakarta yang ke-496. Selamat menjalankan Ibadah Haji semoga mabrur dan mabrurah. Amiin Ya Rabbil alamiin. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
 

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.