Oleh: Dr. KH. Mahkamah Mahdi, Lc, MA
Melalui kajian rutin kitab Isyaratul I’jaz fi Mazannil I’jaz yang disampaikan oleh Dr. K.H. Mahkamah Mahdin,Lc., M.A., beliau mengulas makna kemukjizatan Al-Qur’an dari segi struktur bahasa yang padat namun sarat makna.
Dalam pemaparannya, salah satu mukjizat besar Rasulullah SAW adalah Al-Qur’an itu sendiri — kalamullah yang tidak hanya memukau secara sastra, tetapi juga mengandung kedalaman makna dan logika yang abadi.
“Setiap kata dalam Al-Qur’an mengandung hikmah yang luar biasa. Keindahan bahasanya tidak hanya menyentuh akal, tetapi juga menembus ke dalam jiwa,” ujarnya.
Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam QS. Al-Fatihah [1]: 6–7.
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ
Artinya: “Bimbinglah kami ke jalan yang lurus,” QS. Al-Fatihah: 6.
صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَࣖ
Artinya: “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat,” QS. Al-Fatihah: 7.
Jadi di dua ayat ini menggambarkan dua kelompok dan sikap mereka terhadap shiratal-mustaqim.
Dalam penjelasannya, Dr. Mahkamah menjelaskan bagaimana manusia yang tidak memiliki arah akan selalu diliputi penderitaan. “Ketika ia membuka mata, yang dilihatnya adalah bencana dan ketakutan. Dr. Mahkamah mengutip QS. Al-Insyirah [94]: 5–6;
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Artinya: “Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan,” (QS. Al-Insyirah [94]: 5).
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Artinya: “Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan,” (QS. Al-Insyirah [94]: 6).
Namun bagi orang yang hatinya gelap oleh kesesatan, ia tidak pernah melihat kemudahan itu. Ketika jiwanya menjerit karena penderitaan, ia berusaha melarikan diri dalam hiburan duniawi — berusaha menipu batin sendiri agar tidak merasakan kesunyian.
“Inilah kondisi orang yang tidak mengenal Allah. Hidupnya kosong, jiwanya gersang, dan pikirannya dipenuhi ketakutan. Sebaliknya, orang yang mengenal Allah, akan melihat segalanya dengan cahaya iman. ” ungkap Dr. Mahkamah.
Dr. Mahkamah menekankan bahwa makrifatullah — kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan — menjadi sumber ketenangan sejati. “Orang beriman melihat segala yang terjadi sebagai bagian dari takdir Allah SWT. Tidak ada yang bergerak tanpa izin-Nya,” jelasnya.
Dengan cahaya iman, seseorang akan menemukan makna di balik setiap kejadian, termasuk musibah. Ia akan memandang alam semesta sebagai sahabat, bukan ancaman. “Matahari, bulan, bintang, laut, dan angin semuanya menyeru manusia agar mengenali bahwa mereka adalah ciptaan Allah dan tunduk kepada perintah-Nya,” terang Dr. Mahkamah.
Dalam QS. An-Nur [24]: 35, dijelaskan tentang perumpamaan cahaya Allah SWT yang menerangi langit dan bumi;
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
Artinya: “Allah adalah cahaya bagi langit dan bumi,” (QS. An-Nur [24]: 35.
Ayat ini menggambarkan bahwa iman menjadikan pandangan seseorang terang. Ia mampu melihat hikmah dalam ciptaan dan merasa bersaudara dengan seluruh makhluk. “Mata orang beriman memetik keindahan, telinganya mendengar hikmah, dan hatinya dipenuhi kedamaian,” ujarnya.
Kajian diakhiri dengan harapan agar seluruh jamaah senantiasa istiqamah di jalan Allah SWT. “Jalan lurus adalah jalan iman, jalan orang yang mengenal Tuhannya. Semoga Allah menjadikan kita bagian dari mereka yang meniti as-shiratal-mustaqim,” tutup Dr. Mahkamah. (VISCHA/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.