Jakarta, www.istiqlal.or.id - Puluhan ribu jamaah menghadiri kajian muslimah Ustazah Halimah Alaydrus, dengan membahas "Putri-putri Rasulullah: Selendang Cinta Sang Nabi", di Masjid Istiqlal, Ahad (28/9/2025).
Dalam kajiannya yang membahas putri-putri Rasulullah SAW, Ustazah Halimah mengajak jamaah untuk mencintai Allah, Rasulullah dan keluarganya dengan cara menelaah sejarah, akhlak dan cara mereka menjalani kehidupan ini untuk dapat mengikuti dan meneladani mereka.
Ustazah Halimah juga menyampaikan hadist Safinatul Nuh, mengenai keutamaan dan pentingnya Ahlul Bait. Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا مَثَلُ أَهْلِ بَيْتِي فِيكُمْ كَمَثَلِ سَفِينَةِ نُوحٍ، مَنْ رَكِبَهَا نَجَا، وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ
Artinya: "Sesungguhnya perumpamaan Ahlul Baitku (keluargaku) di tengah-tengah kalian adalah seperti perahu Nabi Nuh. Barangsiapa menaikinya, ia akan selamat. Dan barangsiapa meninggalkannya, ia akan tenggelam (binasa)." (HR. At-Thabrani)
"Di kehidupan dunia yang terasa semakin menenggelamkan ini, mari belajar dari kisah kehidupan putri-putri Nabi SAW, sayyidah Zainab, sayyidah Ruqayyah, sayyidah Ummu Kultsum, sayyidah Fatimah Az-Zahra, semoga kita bisa berkaca dan paham bahwa dunia tidak pernah ideal untuk siapapun, semua diuji termasuk putri Nabi SAW," ujar Ustazah Halimah.
"Semua orang hidup dengan paket, luka dan perihnya sendiri. Kita hanya perlu belajar mengobati luka kita dengan cara mereka, sebab mereka adalah panutan, dan kelak di hari akhir (kiamat), cinta kita menggiring kita untuk berada di barisan mereka (yang mana mereka juga) ada di belakang ayahnya, Rasulullah SAW, pemilik syafaat untuk umatnya," terang Ustazah Halimah.
Dalam kajiannya, Ustazah Halimah juga menyampaikan kisah tentang Sayyidah Zaynab, putri pertama Rasulullah SAW yang menyaksikan awal perjuangan kenabian ayahnya, perlakuan kaumnya yang zalim terhadap ayahnya, dan duka yang menimpa keluarganya saat ayahnya, Nabi Muhammad SAW diutus sebagai nabi.
"Rombongan demi rombongan berangkat ke Madinah. Sementara Zaynab dan suaminya yang belum masuk Islam tentu tidak dapat mengikuti mereka, ia tetap tinggal, terpisah jauh dari keluarganya. Hatinya bercabang antara cinta ayah dan suaminya. Zaynab beriman secara penuh kepada ayahandanya dan tahu secara pasti bahwa sang ayah adalah seorang nabi, namun ia juga seorang istri yang harus bersama dengan suami yang kala itu belum beriman, dan syariat saat itu belum ada larangan mengenai suami istri yang harus berpisah jika berbeda keyakinan," ungkap Ustazah Halimah.
Ustazah Halimah juga menceritakan perjalanan Sayyidah Zaynab yang menjalani duka karena harus berpisah dengan suaminya karena belum beriman hingga akhirnya dinikahkan kembali oleh Rasulullah SAW karena Abul 'Ash bin Ar-Rabi' telah menyatakan keimanannya. Hingga akhirnya satu tahun setelahnya, dan pada tahun ke-8 hijrahnya Nabi Muhammad SAW di Madinah, sayyidah Zaynab wafat.
"Saat menguburkan putrinya, air mata Nabi Muhammad SAW terus mengalir, beliau SAW menangis terisak, hingga ditanya oleh sahabat, "Wahai Rasulullah SAW, bukankah semestinya kita bersabar atas berbagai macam ujian?", Rasulullah SAW menjawab "iya, tentu saja, hanya saja saya diberi tahu bahwasannya setiap kali ada jenazah datang masuk ke dalam kubur, tanah akan menghimpitnya, dan aku menangis karena membayangkan bagaimana bumi akan menghimpit putriku, Zaynab. Aku memohon kepada Allah agar Allah meluaskan kuburnya," jelas Ustazah Halimah.
Perihal lain, Ustazah Halimah juga berpesan kepada jamaah wanita agar menghindari diri dari dosa meski dengan istilah cinta, karena cinta sejati tidak akan membawa yang dicinta pada dosa dan murka Allah subhanahu wata'ala. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)