Foto: Dok. Media Istiqlal

Kajian Subuh Istiqlal: Meraih Keberkahan Ramadhan

Administrator 24 Feb 2026 Warta Istiqlal

Oleh: KH. Abu Hurairah AS, Lc. MA

Ramadhan adalah bulan yang istimewa yang penuh berkah. Kabid Sosial dan Pemberdayaan Umat BPMI KH. Abu Hurairah, dalam tausiah subuhnya di Lantai Utama Masjid Istiqlal, menyebutkan bahwa bulan Ramadhan hadir menjadi kesempatan besar bagi setiap Muslim untuk memperbaiki diri, agar senantiasa meningkatkan ketakwaan dan keimanan, dengan cara mensyukuri segala macam nikmat yang dianugerahkan kepada kita.

Bulan Ramadhan adalah nikmat yang luar biasa. Mereka yang berhasil melewatinya dengan penuh keimanan, kesadaran, dan amalan yang baik, akan mendapatkan pahala berlipat ganda yang tidak terhingga. Sebaliknya, mereka yang membiarkan Ramadhan berlalu tanpa mengisinya dengan kebaikan, sungguh telah merugi dengan kerugian yang besar.

Para ulama menyambut Ramadhan sebagai madrasah sekolah kehidupan yang melatih dan membentuk karakter seorang Muslim. Berpuasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Lebih dari itu, puasa adalah latihan menyeluruh untuk mengendalikan diri, membangun kesabaran, dan memperhalus akhlak.

“Selama sebelas bulan di luar Ramadhan, banyak di antara kita yang mungkin terjebak dalam kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik: hubungan keluarga yang renggang, emosi yang mudah meledak, atau selalu menunda berbuat kebaikan dengan alasan kesibukan. Ramadan hadir sebagai momentum untuk mengubah semua itu,.” ujar KH. Abu Hurairah. 

Beliau juga mengungkapkan, “tanpa refleksi dan kesungguhan, ibadah puasa berisiko menjadi rutinitas tahunan yang berlalu tanpa meninggalkan bekas. Kita hanya menjalani ritual sahur, berpuasa, berbuka, dan tarawih, namun jiwa kita tidak berubah.” 

Hal tersebut yang harus kita hindari karena. Ramadhan seharusnya di jadikan sarana nyata untuk melatih tiga hal pokok:

•        Mengendalikan emosi agar tidak mudah marah dan terpancing provokasi.

•        Mempererat tali silaturahmi dengan keluarga, kerabat, dan sahabat.

•        Membiasakan diri berbuat kebaikan dengan ikhlas, tanpa menunggu waktu yang 'tepat'.

Rasulullah SAW menggambarkan keutamaan Ramadhan dalam sebuah hadits yang agung:

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ

"Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan puasa kepada kalian. Di dalamnya pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu."

(HR. An-Nasa'i dan Ahmad, Shahih)

Dari hadits ini, kita memahami bahwa Ramadhan membawa setidaknya lima keistimewaan, yaitu:

1. Pintu-Pintu Taubat dan Rahmat Dibuka

Di bulan Ramadhan, Allah SWT membuka selebar-lebarnya pintu taubat bagi hamba-hamba-Nya yang penuh dosa dan kesalahan. Betapapun besarnya dosa seseorang, selama ia bersungguh-sungguh bertaubat di bulan Ramadhan, pintu ampunan Allah senantiasa terbuka. Ini adalah kabar gembira bagi kita semua, karena tidak ada satupun manusia yang luput dari kesalahan.

2. Pintu Neraka Ditutup dan Setan Dibelenggu

Salah satu berkah luar biasa Ramadan adalah setan-setan yang biasa menggoda manusia dibelenggu sehingga tidak leluasa melakukan tipu dayanya. Ini bukan berarti kejahatan lenyap sepenuhnya, karena hawa nafsu dan kebiasaan buruk yang telah mengakar dalam diri manusia pun bisa menjadi 'setan' tersendiri. Namun, kondisi ini memberikan kesempatan yang jauh lebih besar bagi kita untuk beribadah dan berbuat kebaikan tanpa godaan yang berat.

3. Pahala Amalan Dilipat Gandakan

Amalan-amalan sunnah di bulan Ramadhan pahalanya setara dengan amalan wajib di bulan lainnya. Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa umrah di bulan Ramadhan pahalanya setara dengan berhaji bersama Rasulullah SAW, padahal umrah hanya memerlukan waktu beberapa jam saja. Ini menunjukkan betapa agungnya nilai setiap kebaikan yang dilakukan di bulan suci ini.

4. Lailatul Qadar: Malam Seribu Bulan

Diantara malam-malam Ramadhan, terdapat satu malam yang nilainya melebihi seribu bulan Lailatul Qadar. Seribu bulan setara dengan sekitar 83 tahun kehidupan manusia. Bayangkan: beribadah hanya dalam satu malam, tetapi pahalanya seperti beribadah selama 83 tahun tanpa henti. Inilah hadiah terbesar yang Allah SWT siapkan bagi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh di bulan Ramadhan.

5. Bersyukurlah Masih Mendapatkan Ramadan

Rasulullah SAW pernah menggambarkan perbedaan antara seseorang yang mendapatkan Ramadhan dengan seorang yang mati syahid di medan perang melalui sebuah kisah nyata di zaman sahabat. Dikisahkan, dua orang masuk Islam bersama-sama. Yang satu rajin beribadah, yang satu biasa saja. Keduanya ikut berperang. Yang rajin beribadah gugur sebagai syahid, sementara yang satunya diberi umur satu tahun lagi, lalu meninggal.

Dalam mimpi sahabat Thalhah bin Ubaidillah, ia melihat orang yang ibadahnya biasa-biasa itu justru masuk surga lebih dahulu dibanding yang mati syahid. Ketika hal ini ditanyakan kepada Rasulullah SAW, beliau menjawab dengan penuh hikmah:

أَلَيْسَ قَدْ مَكَثَ بَعْدَهُ سَنَةً؟ أَلَيْسَ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَصَامَهُ وَصَلَّى كَذَا وَكَذَا مِنَ السَّجَدَاتِ فِي السَّنَةِ؟

"Bukankah dia masih hidup setahun setelah temannya syahid? Bukankah dia mendapatkan Ramadan, lalu berpuasa dan mendirikan shalat sekian banyak sajdah dalam setahun itu?"

(HR. Ibnu Majah, Shahih)

Perbedaan antara orang yang mendapatkan Ramadhan dengan yang tidak mendapatkannya adalah seperti perbedaan antara langit dan bumi. Maka bersyukurlah bagi kita yang masih diberi kesempatan untuk merasakan Ramadhan tahun ini. Manfaatkan sebaik-baiknya, karena kita tidak tahu apakah tahun depan kita masih akan bertemu dengannya.

Selain semangat beribadah, ada satu hal yang sering luput dari perhatian kita namun memiliki pengaruh luar biasa terhadap kualitas ibadah: kehalalan makanan dan minuman yang kita konsumsi. Rasulullah SAW menyampaikan sebuah hadits yang sangat menggetarkan jiwa:

الرَّجُلُ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟

"Ada seseorang yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan tubuhnya penuh debu. Ia menengadahkan tangannya ke langit seraya berdoa, 'Ya Rabb, Ya Rabb.' Namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia tumbuh dari yang haram. Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?"

(HR. Muslim, no. 1015)

1. Makanan Haram Menghalangi Terkabulnya Doa

Hadits ini menjadi peringatan keras bahwa semangat beribadah saja tidak cukup. Seseorang bisa sangat rajin berdoa, menempuh perjalanan jauh demi ibadah, bersungguh-sungguh dalam bermunajat kepada Allah. Namun jika apa yang ia makan, minum, dan pakai berasal dari yang haram, maka doa itu tertolak. Allah SWT tidak mengabulkan permohonan orang yang tubuhnya dibangun dari sesuatu yang haram.

2. Ancaman yang Lebih Besar: Api Neraka

Di luar persoalan doa yang tidak dikabulkan, terdapat ancaman yang jauh lebih besar. Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنَ الْحَرَامِ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ

"Setiap daging yang tumbuh dari barang yang haram, maka api neraka lebih berhak atasnya."

(HR. At-Tirmidzi, Hasan)

Hadits ini menyadarkan kita bahwa tubuh yang kita bangun dari makanan dan minuman haram baik haram karena zatnya maupun cara memperolehnya  akan menjadi santapan api neraka. Ini adalah ancaman yang tidak bisa kita remehkan.

3. Dosa Pertama Umat Manusia: Pelanggaran terhadap Makanan

Renungkanlah bahwa dosa pertama yang dilakukan oleh Nabi Adam AS bukan syirik, bukan membunuh, bukan berzina, dan bukan riba. Dosa pertama adalah melanggar larangan Allah dalam soal makanan memakan buah dari pohon yang dilarang. Akibatnya sungguh dahsyat: Adam dan Hawa dikeluarkan dari surga, dan seluruh anak cucu Adam harus berjuang kembali untuk meraih surga yang telah hilang itu.

Ini mengajarkan betapa seriusnya urusan makanan dan minuman dalam pandangan Islam. Bukan perkara sepele yang bisa dianggap remeh.

4. Halal Jauh Lebih Banyak dari yang Haram

Allah SWT telah menyediakan rezeki yang halal jauh lebih banyak dibandingkan yang haram. Dari sekian banyak jenis makanan dan minuman di muka bumi, yang diharamkan hanyalah sebagian kecil saja. Maka tidak ada alasan untuk mencari rezeki dari jalan yang haram, ketika jalan yang halal terbuka begitu luas. Ini adalah kemurahan Allah yang patut kita syukuri.

Ramadhan adalah nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada kita di dunia ini. Jangan biarkan ia berlalu seperti angin lalu tanpa meninggalkan bekas dalam jiwa dan perilaku kita. “Jadikan Ramadhan sebagai madrasah sejati yang menghasilkan perubahan nyata: emosi yang lebih terkendali, hubungan silaturahmi yang lebih erat, dan amal kebaikan yang lebih konsisten.” ujar KH. Abu Hurairah. 

Iringi semangat beribadah itu dengan kesungguhan menjaga kehalalan rezeki. Karena ibadah tanpa kehalalan rezeki adalah bangunan yang rapuh  rajin berdoa, tapi doa tidak sampai ke langit. Rajin beribadah, tetapi hati tetap gersang.

Mari kita jadikan Ramadhan tahun ini sebagai titik balik  bukan hanya dalam ibadah ritual, tetapi dalam seluruh dimensi kehidupan kita. Semoga Allah SWT menerima puasa, doa, dan seluruh amal ibadah kita di bulan yang mulia ini. (FAISAL/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.