Foto: Dok. Media Istiqlal

Kajian Hawamisy Istiqlal: Makna Doa Iftitah dan Penghayatan Shalat Menghadirkan Kekhusyukan dalam Ibadah

Admin 04 Nov 2025 Warta Istiqlal

Oleh: Drs. KH. Ahmad Dzulfattah Yasin

Membahas kitab Al-Azkar an-Nawawiyyah yang berisi kumpulan doa dan dzikir sehari-hari sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah, karya Imam Muhyiddin Abu Zakaria an-Nawawi,  dalam  kajian Hawamisy di Masjid Istiqlal, jamaah kembali memperdalam pemahaman mengenai doa iftitah, yaitu doa pembuka shalat setelah takbiratul ihram. 

Doa iftitah merupakan bentuk penyucian diri dan penghadapan total kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karenanya setelah mengucapkan takbiratul ihram – “Allahu Akbar” – seorang muslim disunahkan untuk membaca doa iftitah sebelum memulai Surah Al-Fatihah. 

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْـحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Artinya, “Allah Maha Besar sebesar-besarnya. Segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya, dan Maha Suci Allah pagi dan petang. Aku hadapkan wajahku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan tulus dan pasrah, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.”

Memahami makna doa iftitah menjadi bagian penting dalam mencapai kekhusyukan. Karena khusyuk itu bermula dari pemahaman. Jika kita tidak mengerti arti bacaan, pikiran kita mudah melayang.

Dalam doa iftitah terdapat pengakuan bahwa seluruh kehidupan manusia hanya tertuju kepada Allah SWT. Kalimat ḥanīfan musliman menandakan sikap hati yang lurus dan condong kepada kebenaran, sebagaimana ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Allah SWT menegaskan dalam QS. Ali Imran ayat 19:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Artinya: “Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran 19).

Doa ini juga mengandung makna sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-An‘am ayat 78–79, ketika Nabi Ibrahim mencari Tuhan sejati melalui tanda-tanda alam:

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Artinya: “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan tulus dan tidak termasuk orang-orang musyrik,” (QS. Al-An’am 78-79).

Melalui doa ini, umat Islam diajak untuk menanamkan keyakinan penuh bahwa setiap shalat merupakan bentuk berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT.

Menyerahkan Hidup dan Mati kepada Allah

Lebih lanjut, Allah SWT juga berfirman dalam QS. Al-An‘am: 162–163: 

إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ 

Artinya, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan demikianlah aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri,”  (QS. Al-An‘am: 162–163). 

Doa ini menjadi pengingat agar setiap muslim senantiasa mengarahkan seluruh amal ibadah hanya untuk Allah SWT. Bukan hanya menyerahkan waktu shalat kepada Allah, tapi juga seluruh hidup dan mati kita.

Dalam implementasinya, Rasulullah SAW terkadang membaca redaksi wa ana awwalul muslimīn (aku adalah orang pertama yang berserah diri), karena beliau SAW adalah rasul terakhir dan pemimpin umat Islam. Sementara umatnya dianjurkan membaca wa ana minal muslimīn (aku termasuk orang-orang yang berserah diri).

Memohon Ampunan dan Hidayah

Dalam doa iftitah terdapat juga kalimat pengakuan dosa dan permohonan ampun kepada Allah SWT:

اللَّهُمَّ انْتَ الْمَلِكُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا

Artinya: “Ya Allah, Engkaulah Raja, tiada Tuhan selain Engkau. Engkaulah Tuhanku, dan aku adalah hamba-Mu. Aku telah menzalimi diriku dan aku mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah seluruh dosa-dosaku.)

Sebagai pengingat sebagaimana yang termaktub dalam  QS. Az-Zumar ayat 53 :

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ

Artinya: “Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri meka, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa,” (QS. Az-Zumar 53).

“Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni selama kita mau bertaubat dengan sungguh-sungguh,” tutur KH. Dzulfattah..

KH. Dzulfattah mengingatkan, bahwa kesyirikan yang tidak diiringi taubat hingga akhir hayat tidak akan diampuni, sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nisa ayat 48,

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya,” (QS. An-Nisa 48).

Memohon Akhlak Terbaik

Dalam bacaan iftitah, terdapat juga doa yang dapat diamalkan agar kita menyadari bahwa hidayah dan kebaikan akhlak hanya datang dari Allah SWT semata., yaitu: 

اَللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ

Artinya: “Ya Allah, bimbimbinglah diriku pada akhlak paling terpuji karena tidak ada yang dapat membimbing kepadanya kecuali Engkau. Palingkanlah aku dari akhlak yang buruk karena sungguh tidak ada yang dapat memalingkannya dariku kecuali Engkau.

Mengikuti Sunnah Rasulullah 

Dalam menutup kajiannya, KH. Dzulfattah mengajak jamaah untuk senantiasa meneladani Rasulullah SAW dalam setiap ibadah, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al- Hasyr 7:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُو

Artinya: “Apa yang dibawa oleh Rasul, maka ambillah; dan apa yang dilarangnya, maka tinggalkanlah,” (QS. Al-Hasyr: 7).

“Bacalah doa yang Rasulullah ajarkan walau hanya sekali dalam hidup. Itu sudah menjadi tanda ittiba’ (mengikuti sunnah) kepada Rasulullah SAW,” ujarnya menegaskan.

Doa Penutup dan Harapan

Menjelang akhir kajian, KH. Ahmad Dzulfattah mengajak jamaah untuk membaca tiga doa penting dalam sujud terakhir:

1) Doa Meminta Husnul Khatimah

اَللّ‍هُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ حُسْنُ اْلخَاتِمَة

 Artinya: “Ya Allah, anugerahkan aku akhir yang baik.”

2) Doa Wafat dalam Keadaan Bertaubat

اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِيْ تَوْبَتًا نَصُوْحَا قَبْلَ الْمَوْت

Artinya: “Ya Allah, berilah aku kesempatan bertaubat sebelum meninggal.”

3) Doa agar bisa istiqamah 

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ 

Artinya: “Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku diatas agama-Mu.”

Selain itu, KH. Dzulfttah mengajak jamaah untuk mendoakan saudara-saudara muslim di Palestina dan di seluruh dunia agar diberi kekuatan, kesabaran, serta husnul khatimah bagi mereka yang wafat dalam perjuangan.

Kajian Hawamisy tersebut ditutup dengan pembacaan Surah Al-Fatihah dan zikir bersama. Suasana khidmat dan penuh kekhusyukan menyelimuti lantai utama Masjid Istiqlal. 

“Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang istiqamah dalam ibadah, dimatikan dalam keadaan husnul khatimah, serta digolongkan bersama orang-orang saleh,” pungkasnya sebelum menutup dengan salam. (VISCHA/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.