Dengan pemikiran bahwa gedung yang megah ini akan tahan untuk ratusan tahun, makagedung ini dapat memberikan pelayanan sepanjang masa. Untuk itu dicarikan bentuk-bentukdan ekspresi yang timbul langsung dari kebutuhan nyata, sehingga generasi mendatang selalu dapat menghargai pikiran-pikiran yang tercurahkan dalam pembangunan masjid ini. Pembangunan Masjid Istiqlal bukanlah merupakan selera sezaman tapi insya Allah akan merupakan selera sepanjang masa, selama masjid itu tegak berdiri menjalankan fungsinya. Setiap zaman mempunyai pernyataan kebudayaan sendiri dan kebudayaan selalu berkembang, maka dalam pembangunan Masjid Istiqlal ini direncanakan untuk menampilkan arsitektur Indonesia modern yang dapat dihargai oleh generasi-generasi mendatang, dan tidak terbatas hanya untuk diresapi oleh satu dua generasi saja.
Dalam pada itu panitia telahl menekankan bahwa pembangunan induk harus cukup luas untuk dapat menampung tidak kurang dari 25.000 orang.
Dari Kompromi Kiblat-Monas Hingga Rahasia Basement Raksasa
Mengingat Masjid Istiqlal ini sebagai bangunan yang besar dan megah maka ia harus mempunyai hubungan dengan gedung-gedung yang berada disekitarnya. Sementara itu yang paling prinsipil adalah mengenai soal kiblat yang sama sekali tidak dapat dihubungkan dengan gedung-gedung yang disekitar masjid. Dalam hubungan ini ditetapkan, bahwa gedung induk Istiqlal harus berorientasi ke Kiblat.
Disamping itu mengingat pula hari-hari tertentu seperti Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, dimana pengunjung Istiqlal diharapkan akan melimpah ruah, maka direncanakan suatu teras raksasa, yang berada dalam induk orientasinya. Teras ini agak bebas orientasinya dan malah ke arah Monumen Nasional.
Pada rencana semula, Masjid Istiqlal dan Monumen Nasional akan dihubungkan dengan menegakkan suatu emper yang panjangnya 150 meter tegak lurus pada poros hubungan masjid dan Monumen Nasional. Pada poros itu akan diletakkan gedung pendahuluan yang berisi tangga untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi.
Teras raksasa ini kira-kira seperti masjid-masjid di Timur Tengah, India, Pakistan, dan lain-lain negara, yaitu suatu pelataran yang luas tanpaatap tapi dikelilingi emper yang beratap. Sementara itu lantai gedung induk dengan teras raksasa akan menjadi atap dari basemen raksasa yang di satu pihak dibatasi oleh sisi gedung induk dan dilain pihak oleh emper-emper pendahuluan yang dibuat secara bertingkat. Basement raksasa itu (lebih kurang 22.000 m2) dapat digunakan melakukan shalat bila dikemudian hari bagian atas terlalu penuh. Basement ini juga dapat berfungsi sebagai suatu tempat penampungan bagi korban-korban bencana alam untuk waktu tertentu.
Namun demikian setelah melalui pertimbangan yang matang dan mengingat akan kesucian masjid, maka rencana tersebut di kemudian hari ditiadakan dan fungsinya tetap sebagaisarana peribadatan. Basement ini akhirnya dipakai untuk tempat-tempat perkantoran dan tempat bersuci dan sanitasi pengambilan air wudhu, kamar mandi, dan toilet-toilet. (ASMA/ Media dan Humas Masjid Istiqlal. Dalam buku yang berjudul: Mengenal Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.