Oleh : KH. Abu Hurairah Abdul Salam, Lc., MA.
Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Allah Swt. menyebutnya sebagai bagian dari empat bulan haram (bulan-bulan yang disucikan), sebagaimana firman-Nya:
اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌۗ
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan yang dimuliakan.” (QS. At-Taubah: 36)
Muharram juga disebut oleh Nabi Muhammad saw. sebagai Syahrullah al-Muharram (bulan Allah, yaitu Muharram), yang menunjukkan keagungan dan kemuliaannya. Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah, puasa sunnah, amal saleh, serta meningkatkan kepedulian sosial.
Di tengah masyarakat Muslim Indonesia berkembang tradisi menjadikan bulan Muharram sebagai “Lebaran Anak Yatim”, yaitu momentum untuk memuliakan, menyantuni, dan membahagiakan anak-anak yatim. Tradisi ini menjadi salah satu ekspresi sosial-keagamaan yang mengandung nilai-nilai kemanusiaan dan kasih sayang.
Islam memberikan perhatian yang sangat besar kepada anak yatim. Al-Qur’an berulang kali memerintahkan umat Islam untuk memperlakukan mereka dengan penuh kasih dan kehormatan. Allah Swt. berfirman:
فَاَمَّا الْيَتِيْمَ فَلَا تَقْهَرْۗ ٩
“Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.” (QS. Ad-Dhuha: 9)
Rasulullah saw. bahkan menjanjikan kedekatan istimewa di surga bagi orang yang memelihara dan menyantuni anak yatim:
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا
“Aku dan orang yang menanggung anak yatim di surga seperti ini, seraya beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya.” (HR. al-Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa memuliakan anak yatim bukan sekadar amal sosial, melainkan ibadah yang memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi.
Istilah “Lebaran Anak Yatim” tidak ditemukan secara eksplisit dalam Al-Qur’an maupun hadis sebagai sebuah nama perayaan keagamaan. Namun, tradisi tersebut lahir dari semangat untuk menjadikan Muharram sebagai momentum berbagi kebahagiaan dan kepedulian terhadap anak-anak yatim.
Dalam konteks budaya Islam Nusantara, tradisi ini memiliki nilai positif karena:
Pertama, menghidupkan semangat solidaritas sosial. Anak yatim sering kali menjadi kelompok yang rentan secara ekonomi maupun psikologis. Menyantuni mereka pada bulan Muharram mengingatkan masyarakat agar tidak melupakan saudara-saudaranya yang membutuhkan perhatian.
Kedua, menumbuhkan rasa empati dan kasih sayang. Anak-anak yang kehilangan ayah membutuhkan bukan hanya bantuan materi, tetapi juga sentuhan kasih, perhatian, dan penghargaan atas martabat kemanusiaan mereka.
Ketiga, menjadikan agama hadir dalam bentuk kepedulian sosial. Ibadah dalam Islam tidak hanya berbentuk ritual individual, tetapi juga diwujudkan melalui pembelaan dan perhatian terhadap kelompok yang lemah.
Meskipun tradisi Lebaran Anak Yatim mengandung banyak kebaikan, semangat memuliakan anak yatim tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial setahun sekali. Islam mengajarkan agar kepedulian kepada mereka menjadi gerakan yang berkelanjutan.
Menyantuni anak yatim bukan hanya memberikan uang atau bingkisan, tetapi juga memastikan mereka memperoleh pendidikan yang baik, kesehatan yang layak, pendampingan psikologis, serta kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara bermartabat.
Lebih dari itu, memuliakan anak yatim sejatinya adalah memuliakan nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan oleh Islam. Sebuah masyarakat tidak diukur dari kemegahan bangunannya, melainkan dari sejauh mana ia memperhatikan mereka yang lemah dan membutuhkan pertolongan.
Tradisi menjadikan bulan Muharram sebagai Lebaran Anak Yatim merupakan warisan kearifan sosial-keagamaan yang patut diapresiasi selama dipahami sebagai sarana memperkuat nilai kasih sayang dan solidaritas. Muharram mengajarkan bahwa kesalehan tidak hanya tampak dalam banyaknya ibadah ritual, tetapi juga dalam kemampuan menghadirkan kebahagiaan bagi mereka yang kehilangan.
Maka, jika Idulfitri mengajarkan kemenangan spiritual setelah sebulan berpuasa, maka Muharram mengajarkan kemenangan kemanusiaan melalui kepedulian kepada anak-anak yatim. Dengan memuliakan mereka, sesungguhnya kita sedang meneguhkan pesan Islam sebagai agama rahmat, kasih sayang, dan pembelaan terhadap kaum yang lemah.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.