Foto: Dok. Media Istiqlal

Hikmah: Atas Berkat Rahmat Allah yang Maha Kuasa, Merdeka!

13 Aug 2026

ATAS BERKAT RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA, MERDEKA!

Oleh: Saparwadi Nuruddin Zain

Ada satu kalimat dalam sejarah bangsa Indonesia yang semakin direnungkan terasa semakin dalam maknanya: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.” 

Kalimat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 ini bukan sekadar pernyataan politik. Di dalamnya terdapat pengakuan tentang Tuhan, perjuangan manusia, cita-cita kebebasan, sekaligus kerendahan hati sebuah bangsa. Indonesia merdeka setelah perjalanan perjuangan yang panjang, tetapi pada saat kemenangan itu tiba, bangsa ini tidak mengatakan bahwa kemerdekaan adalah semata-mata hasil kehebatan manusia. Bangsa ini justru mengakuinya sebagai berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.

Di sinilah kita menemukan pelajaran yang sangat dekat dengan ajaran Al-Qur’an. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” (QS Ar-Ra‘d: 11)

Dalam pemaknaan para mufasir, perubahan keadaan suatu masyarakat berkaitan dengan perubahan yang dilakukan manusia pada dirinya: sikapnya, kesadarannya, kemauannya, serta usaha yang ditempuhnya. Karena itu, doa harus melahirkan ikhtiar dan keyakinan harus melahirkan perjuangan. Namun Al-Qur’an sekaligus menjaga manusia agar tidak jatuh kepada kesombongan. Maka dalam pandangan iman, perjuangan adalah kewajiban kita, sedangkan keberhasilan tetap merupakan karunia Allah.

Dalam Islam, kemerdekaan dapat kita dekatkan dengan konsep “al-ḥurriyyah”, kebebasan atau kemerdekaan. Tetapi kebebasan dalam Islam bukanlah kehidupan tanpa aturan, seolah-olah manusia bebas melakukan apa saja menurut keinginannya. Kemerdekaan yang hakiki justru bermula ketika manusia membebaskan dirinya dari penghambaan kepada selain Allah. 

Kalimat “Laa ilaaha illallaah” mengandung makna pembebasan yang sangat agung, tidak ada kekuasaan, harta, kedudukan, manusia, bahkan hawa nafsu yang boleh mengambil kedudukan Allah SWT dalam hati kita. Karena itu, seseorang boleh jadi hidup di negeri yang merdeka, tetapi belum menjadi manusia yang merdeka apabila dirinya masih diperbudak oleh keserakahan, kebencian, ketakutan, ambisi kekuasaan, atau hawa nafsunya sendiri.

Pesan tentang martabat manusia mencapai salah satu puncaknya dalam Khutbah Rasulullah SAW pada Haji Wada’. Di hadapan umatnya, Rasulullah SAW menegaskan bahwa darah dan harta manusia memiliki kehormatan yang tidak boleh dilanggar, sebagaimana sucinya hari, bulan, dan tanah suci pada saat itu. 

Pesannya sangat mendalam, masyarakat yang merdeka tidak cukup hanya memiliki pemerintahan sendiri; manusia di dalamnya harus terlindungi darahnya, hartanya, kehormatannya, dan hak-haknya. Apabila pesan Haji Wada’ dibaca sebagai prinsip kehidupan sosial, kita menemukan bahwa Islam menghendaki kemerdekaan yang berbuah kemuliaan manusia. 

Kemerdekaan tidak boleh melahirkan penindas baru. Orang yang dahulu tertindas tidak boleh, setelah memperoleh kekuasaan, berubah menjadi pihak yang menindas. Sebab tujuan pembebasan dalam Islam bukanlah memindahkan kezaliman dari satu tangan kepada tangan yang lain, melainkan mengakhiri kezaliman itu sendiri. 

Maka kekuasaan, jabatan, dan kemerdekaan harus menjadi jalan untuk menghadirkan keadilan. Karena itulah pertanyaan terbesar setelah sebuah bangsa merdeka bukan lagi, “Apakah kita sudah bebas dari penjajahan?” Pertanyaan yang lebih dalam adalah, “Untuk apa kemerdekaan ini kita gunakan?” 

Allah SWT berfirman “(Yaitu) orang-orang yang apabila Kami beri kemantapan hidup di bumi, mereka menegakkan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS. Al-Hajj: 41). 

Dalam ayat tersebut, tamkīn yakni diberinya kekuatan dan kedudukan di bumi, bukanlah tujuan akhir, melainkan amanah. Kekuasaan dan kemerdekaan harus melahirkan kesalehan kepada Allah SWT sekaligus kemaslahatan bagi manusia. Kemerdekaan dalam perspektif Al-Qur’an memiliki dimensi vertikal dan horizontal, yaitu semakin dekat kepada Allah SWT dan semakin besar manfaatnya bagi manusia.

Maka mempertahankan dan mengisi kemerdekaan hari ini adalah bagian dari perjuangan yang belum selesai. Dahulu para pejuang menghadapi penjajah dengan senjata dan pengorbanan jiwa. 

Generasi hari ini menghadapi bentuk perjuangan yang berbeda: melawan kebodohan dengan pendidikan, kemiskinan dengan pemberdayaan, korupsi dengan integritas, perpecahan dengan persaudaraan, ketidakadilan dengan keberanian menegakkan kebenaran, serta hawa nafsu dengan ketakwaan.

Kemerdekaan harus memuliakan bangsa, mencerdaskan generasi, melindungi yang lemah, menegakkan keadilan, menghadirkan kesejahteraan, dan merawat persaudaraan. Karena itu, “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa” bukan sekadar ungkapan sejarah, melainkan pengingat bahwa kemerdekaan adalah rahmat yang harus disyukuri, perjuangan yang harus dijaga, dan amanah yang harus diisi dengan kemaslahatan. 

Maka merdeka bukan hanya bebas dari penjajahan, tetapi juga dari kebodohan, kebencian, kezaliman, perpecahan, dan penghambaan kepada hawa nafsu. Dengan pertolongan Allah kita merdeka, dan dengan mengharap rida-Nya kita mengisi kemerdekaan. Wallaahu a’lam. MERDEKA !

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.