Foto: Dok. Media Istiqlal

Hikmah: Scientific Dzikir

Admin 26 May 2025 Warta Istiqlal

Oleh: Saparwadi Nuruddin Zain

 

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya”  (QS. Al-Ahzab: 41). Zikir bukan sekadar amalan lisan yang dilafazkan, melainkan juga kesadaran batin yang menyertai setiap detak kehidupan. Rasulullah SAW mencontohkan zikir sebagai napas ruhani: ucapan, perbuatan, dan bahkan diam beliau dipenuhi dengan ingatan kepada Allah. Sejak bangun tidur hingga tidur kembali, Nabi SAW menuntun umatnya untuk menjadikan setiap aktivitas sebagai bentuk zikir kepada Allah SWT.

Seiring berkembangnya zaman dan pengetahuan, muncul pendekatan baru yang tidak menggantikan zikir tradisional, melainkan memperkaya maknanya. Inilah yang disebut Scientific Dzikir (dzikir yang lahir dari perenungan ilmiah, dari pemahaman dan pengamatan terhadap fenomena alam semesta yang merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah).

Scientific Dzikir dapat dimaknai sebagai: “Menghadirkan kesadaran kepada Allah (dzikrullah) melalui pemahaman, pengamatan, dan refleksi ilmiah terhadap ciptaan-Nya, serta menggunakan pendekatan saintifik untuk memperdalam keimanan dan kekhusyukan”. Ini bukan bentuk zikir baru, melainkan dimensi dzikir yang menambahkan kedalaman dan keluasan makna, sesuai dengan perkembangan akal dan ilmu manusia.

Sejak bangun tidur, manusia telah mengalami keajaiban biologis yang luar biasa. Proses sadar kembali setelah tidur melibatkan pengaturan hormon, aliran darah, dan aktivitas otak yang kompleks. Saat kita mengucapkan “Alhamdulillahilladzi ahyaana…”, itu bukan hanya lafaz syukur, tapi pengakuan terhadap sistem tubuh yang bekerja tanpa kita sadari (sebuah bentuk dzikir berbasis kesadaran ilmiah).

Ketika mandi dan bersuci, kita bersentuhan dengan air (zat yang memiliki sifat kimia unik dan sangat ideal untuk menjaga kebersihan tubuh). Air bukan hanya cairan, melainkan simbol kehidupan, dan setiap tetesnya adalah tanda kebesaran Allah yang bisa kita hayati secara saintifik. Ya Allah, betapa beruntungnya kita mendapatkan “air” yang hanya Allah SWT yang dapat menciptakannya untuk keperluan dan kebutuhan kita.

Saat makan, kita mengkonsumsi makanan yang berasal dari proses fotosintesis, penyerapan mineral oleh akar, interaksi iklim, dan peran mikroorganisme. Sistem pencernaan memecahnya menjadi energi dengan proses biokimia yang sangat presisi. Jika kita mengingat bahwa semua ini adalah ciptaan dan pengaturan Allah, maka aktivitas makan pun menjadi ladang dzikir yang dalam.

Saat bekerja, tubuh, akal, dan emosi manusia bergerak serempak. Mata menangkap cahaya, otak mengolah informasi, jantung memompa darah (semuanya adalah sistem yang telah Allah ciptakan dengan detail luar biasa). Bahkan saat kita menaiki kendaraan, kita sedang memanfaatkan hukum-hukum fisika dan mekanika yang juga merupakan bagian dari sunnatullah.

Menjelang malam, tubuh kembali menyesuaikan ritme biologisnya, menurunkan aktivitas, mengatur suhu, dan mempersiapkan tidur. Ini disebut “sirkadian rhythm”, sebuah sistem waktu internal yang menunjukkan betapa sempurnanya penciptaan manusia.

Merenungkan semua itu bukan hanya memperkaya wawasan, tetapi juga menuntut rasa syukur. Kemampuan untuk melihat, memahami, dan mengaitkan fenomena ilmiah dengan kekuasaan Allah adalah nikmat yang sangat besar yang tidak semua orang memilikinya. Maka di sinilah letak pentingnya syukur atas nikmat Scientific Dzikir.

Allah SWT berfirman: “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu…” (QS. Ibrahim: 7). Syukur bukan hanya dalam bentuk ucapan, tapi juga dalam bentuk menggunakan akal dan ilmu untuk semakin mendekat kepada Allah, bukan untuk menyombongkan diri. Ilmu yang membawa kepada dzikir adalah ilmu yang diberkahi.

Scientific Dzikir mengajarkan bahwa sains dan keimanan bukan dua kutub yang bertentangan, melainkan dua jalan yang bertemu menuju satu tujuan: mengenal dan mengagungkan Allah. Dengan mengamati ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda kekuasaan Allah di langit dan bumi) kita menunaikan perintah untuk berdzikir dengan akal dan hati. Allah SWT berfirman: “...mereka yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring, serta memikirkan penciptaan langit dan bumi…” (QS. Ali ‘Imran: 191).

Akhirnya, “Scientific Dzikir” adalah bentuk dzikir yang menyatu dengan ilmu, kehidupan, dan kesadaran. Ia menjadikan setiap pengalaman harian (dari bangun hingga tidur kembali) sebagai jalan menuju pengenalan dan penghambaan kepada Allah. Dan atas nikmat ini, kita wajib bersyukur, karena Allah telah memberi kita akal, ilmu, dan iman (tiga pilar untuk menyempurnakan zikir yang hakiki. Wallaahu a’lam.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.