Jakarta, www.istiqlal.or.id - The Voice of Istiqlal mempersembahkan kegiatan bedah buku “I am Christian, I Love Muslim” karya Danial Fery Mangin dan diskusi lintas iman sebagai simbol toleransi dalam rangka memperingati Hari Toleransi Internasional di China Space Perpustakaan Istiqlal, Jakarta, Rabu (12/11/2025).
Dalam sesinya, Danial menjelaskan latar belakang dalam menulis buku tersebut. “Ibu saya menampung di rumah beberapa orang dari semua suku agama dari seluruh Indonesia. Dari situ saya melihat apa yang dilakukan ibu saya dan berpesan kepada saya untuk harus baik kepada semua orang,” terang Danial.
Danial juga menjelaskan hubungan agama Islam dan Kristen sebagai rumus huruf CINTA yaitu sebagai berikut; C untuk care yaitu peduli terhadap sesama dalam tolong menolong tidak melihat suku, agama, dan ras. lalu, I, initiative dalam memulai perdamaian. N, Need, selalu butuh orang lain dan Tuhan, T, treat, yaitu berkolaborasi dalam menciptakan perdamaian karena persaudaraan, dan terakhir A, acceptance, yaitu menerima orang lain apa adanya.
Sesuai judul bukunya, Danial menjawab alasan mengapa Ia cinta Muslim sebagai Kristen “Kenapa saya cinta muslim?, because you're my brother! (karena kaulah saudaraku!),” jelasnya.
Buku “I am Christian, I Love Muslim” diharapkan menjadi “obat penawar” pada luka sejarah antara Islam dan Kristen. “Karena kita ini bersaudara dari satu nenek moyang, dari Ibrahim, Ismail, dan Ishak,” tambahnya.
H. Ahmad Shaleh Amin, selaku dosen sejarah peradaban Islam PKUMI juga menyampaikan materi terkait Islam, Cinta, dan Koeksistensi Antar Agama. Beliau mengajak para audiens untuk selalu memiliki tiga kompetensi utama, yaitu self competence, yaitu pemahaman ajaran agama sendiri. lalu, comparative competence, kemampuan memahami ajaran agama lain, dan collaborative competence sebagai kemampuan bekerja sama lintas iman untuk menciptakan perdamaian. Untuk memahami ajaran agama lain, setidaknya kita memahami agama sendiri sebanyak 80 persen agar kita bisa melihat benang merah persatuan.
"Tuhan menciptakan kita berbeda-beda karena Tuhan menginginkan kita menjadi pelangi di bumi, walaupun kita berbeda-beda tapi saling mengisi dan menciptakan keindahan sebagaimana pelangi menciptakan keindahan di langit,” jelas H. Amin
Seorang pendeta dari Gereja Advent memberikan perspektif tentang apa arti kekudusan dalam iman Kristen. Ia menjelaskan bahwa menahan diri dari makanan atau minuman tertentu bukan semata-mata karena masalah kesehatan, tetapi sebagai cara untuk menunjukkan ketaatan kepada Tuhan
Beliau juga menjelaskan bahwa umat Kristen Advent membangun hubungan damai dengan umat Islam melalui jaringan Adventist Muslim Relations (AMR) dan Adventist Development Relief Agency (ADRA).
Kegiatan akrab ini berakhir dengan refleksi bersama dan harapan bahwa semangat untuk berbicara lintas agama akan tetap ada. (TANZA/Humas dan Media Masjid Istiqlal)