Jakarta, www.istiqlal.or.id - Ibadah kurban adalah momentum tahunan yang diselenggarakan setiap Dzulhijjah guna mengevaluasi diri yang membawa pesan transformatif bagi setiap Muslim. Dalam firman-Nya, Allah subhanahu wata'ala memerintahkan umatnya untuk menyembelih hewan qurban. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَلِكُلِّ اُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۗ فَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ فَلَهٗٓ اَسْلِمُوْاۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِيْنَ ۙ
"Bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban) agar mereka menyebut nama Allah atas binatang ternak yang dianugerahkan-Nya kepada mereka. Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa. Maka, berserahdirilah kepada-Nya. Sampaikanlah (Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang rendah hati lagi taat (kepada Allah)." (QS. Al-Ḥajj [22]:34)
Dalam pelaksanaan berqurban, umat Muslim juga sudah diberikan panduan oleh Rasulullah SAW agar ibadah penyembelihan qurban diterima di sisi Allah subhanahu wata'ala.
Untuk meraih pahala dan hikmah berkurban dapat optimal, umat Muslim dapat mengetahui amalan-amalan sunnah seputar penyembelihan hewan kurban, di antaranya sebagai berikut:
1. Menjaga Rambut dan Kuku
Disunnahkan bagi orang yang berkurban untuk tidak memotong kuku dan rambut yang melekat di tubuh sejak memasuki tanggal 1 Zulhijah hingga hewan kurbannya disembelih. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW:
Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئً
“Jika telah masuk 10 hari pertama dari Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian berkeinginan untuk berkurban, maka janganlah ia menyentuh (memotong) rambut kepala dan rambut badannya (diartikan oleh sebagian ulama: kuku) sedikit pun juga.”
(HR. Muslim no. 1977)
Hikmah dari perintah ini adalah agar seluruh bagian tubuh shohibul qurban tersebut mendapatkan ampunan Allah SWT sebelum dipisahkan dari raga.
2. Ibadah di Hari Arafah
Walaupun tidak menjalankan ibadah haji di tanah suci, umat Muslim dianjurkan untuk memperbanyak zikir, istighfar, dan melaksanakan puasa Arafah pada tanggal 9 Zulhijah. Puasa ini memiliki keutamaan luar biasa, yakni berpeluang menggugurkan dosa setahun yang lalu dan menjaga diri dari maksiat setahun ke depan.
Dari Abu Qatadah RA, bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang puasa hari Arafah, maka beliau bersabda:
عَنْ أَبِي قَتَادَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ، فَقَالَ: «يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ»
Artinya: “(Puasa itu) menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang tersisa (yang akan datang)." (HR. Muslim No. 1162).
3. Membaca Doa saat Penyembelihan
Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam menyembelih binatang kurban dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, sebagaimana pada sabdanya,
عَنْ أَنَسٍ قَالَ: أُتِيَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ اَمْلَحَيْنِ (فِيْهِمَا بَيَاضٌ يُخَالِطُهُ سَوَادٌ) أَقْرَنَيْنِ فَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صَفَاحِهَا. (رواه البخاري ومسلم)
Dari Anas, ia berkata, “Rasulullah SAW dibawakan dua ekor domba yang bagus (pada kedua domba itu terdapat warna putih yang bercampur hitam) yang bertanduk bagus, lalu beliau menyebut nama Allah dan bertakbir (waktu menyembelihnya) dan meletakkan kakinya di atas rusuk binatang itu.” (Riwayat al-Bukhārī dan Muslim)
Saat proses penyembelihan berlangsung, shohibul qurban dianjurkan menghadap kiblat dan membaca doa komitmen kepatuhan: "Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samawati wal ardha..." sebagai bentuk penyerahan diri secara total kepada Allah.
Sejatinya, daging dan darah hewan kurban tidak akan sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan dari kitalah yang sampai kepada-Nya. Dengan mengoptimalkan amalan sunnah mulai dari awal Zulhijah hingga hari penyembelihan, seorang shohibul qurban sejatinya sedang menata ulang hatinya.
Jika setelah berkurban lisan kita menjadi lebih terjaga, ibadah lebih meningkat, dan hubungan dengan sesama menjadi lebih harmonis, maka itulah tanda bahwa kurban kita bukan sekadar ritual fisik, melainkan kurban yang memberikan keberkahan dan perubahan nyata dalam kehidupan.
Semoga keberkahan kurban tahun ini memancar dalam karakter kita; lisan yang lebih santun, ibadah yang lebih tekun, dan rasa kemanusiaan yang lebih mendalam terhadap sesama. Selamat berkurban, semoga Allah menerima amal ibadah kita semua. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.