Ramadhan dikenal sebagai bulan yang paling mulia di antara bulan-bulan lainnya. Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia menyambutnya dengan penuh suka cita dan harapan akan perubahan diri. Namun, kemuliaan Ramadhan bukanlah sesuatu yang lahir begitu saja tanpa, sebab Islam tidak memandang waktu sebagai sesuatu yang sakral secara otomatis, melainkan memuliakannya karena apa yang Allah SWT tetapkan dan hadirkan di dalamnya.
Dalam konteks Ramadhan, kemuliaan itu bersumber dari satu peristiwa agung, yaitu turunnya Al-Quran.
Allah SWT secara tegas mengaitkan Ramadhan dengan Al-Quran, bukan dengan puasa semata. Dalam firman-Nya:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Artinya: Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah [2]:185)
Ayat ini menunjukkan bahwa Ramadhan menjadi mulia bukan karena puasa semata, melainkan karena ia menjadi waktu turunnya wahyu Allah SWT yang terakhir dan paling sempurna. Dengan kata lain, Al-Quran lah yang memuliakan Ramadhan, bukan sebaliknya.
Prinsip bahwa Al-Quran lah yang memuliakan Ramadhan memberikan pemahaman mendasar tentang cara Islam memandang waktu. Dalam perspektif Islam, waktu pada hakikatnya bersifat netral. Ia tidak otomatis menjadi mulia hanya karena pergantian kalender atau kebiasaan manusia. Suatu waktu baru memperoleh kemuliaan ketika Allah Ta’ala memberikan nilai khusus di dalamnya, baik melalui peristiwa besar, turunnya rahmat, maupun diturunkannya wahyu.
Al-Quran sebagai Kalamullah memiliki kedudukan yang sangat agung. Ia adalah firman Allah SWT yang diturunkan sebagai petunjuk hidup bagi seluruh umat manusia, tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Allah SWT menegaskan kemuliaan Al-Quran dalam firman-Nya:
اِنَّهٗ لَقُرْاٰنٌ كَرِيْمٌۙ . فِيْ كِتٰبٍ مَّكْنُوْنٍۙ
Artinya: “Sesungguhnya ia benar-benar Al- Quran yang sangat mulia, dalam kitab yang terpelihara” (QS. Al-Wāqi‘ah [56]:77-78)
Ketika sesuatu yang begitu mulia diturunkan pada bulan Ramadhan, maka kemuliaan Al-Quran tersebut ikut memancar kepada waktu yang dipilih sebagai tempat turunnya wahyu. Inilah sebab utama mengapa Ramadhan memiliki kedudukan istimewa dan disebut oleh para ulama sebagai Sayyidus Syuhūr, penghulu seluruh bulan.
Keistimewaan Ramadhan juga tidak dapat dilepaskan dari turunnya Al-Quran pada malam yang paling mulia, yaitu Lailatul Qadar. Allah SWT berfirman:
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Artinya: “Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al- Quran) pada Lailatul Qadar” (QS. Al-Qadr [97]:1)
Dalam ayat lain, Allah SWT menyebut malam tersebut sebagai malam yang diberkahi: Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْن
Artinya: “Sesungguhnya Kami (mulai) menurunkannya pada malam yang diberkahi (Lailatul Qadar). Sesungguhnya Kamilah pemberi peringatan” (QS. Ad-Dukhān [44]:3)
Lailatul Qadar menjadi malam yang lebih baik daripada seribu bulan bukan karena malam itu sendiri, melainkan karena peristiwa agung yang terjadi di dalamnya, yaitu turunnya Al-Quran. Karena Lailatul Qadar berada di bulan Ramadhan, maka Ramadhan pun dimuliakan secara keseluruhan. Hal ini kembali menegaskan bahwa kemuliaan waktu sangat bergantung pada kehadiran Al-Quran di dalamnya.
Hikmah ini mengajarkan sebuah prinsip penting dalam kehidupan manusia. Jika sebuah bulan menjadi mulia karena Al-Quran yang turun di dalamnya, maka manusia pun akan menjadi mulia ketika Al-Quran turun dan hidup di dalam hatinya. Manusia pada hakikatnya adalah “wadah”, sebagaimana waktu dan tempat. Nilai seseorang tidak ditentukan oleh bentuk lahiriah, status sosial, atau kepemilikan duniawi, melainkan oleh apa yang mengisi hati dan jiwanya.
Allah SWT menggambarkan betapa besar pengaruh Al-Quran terhadap sesuatu yang keras sekalipun:
لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَيْتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ ۗوَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ
Artinya: “Seandainya kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya untuk tunduk terpecah belah karena takut kepada Allah. Perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia agar mereka berpikir” (QS. Al-Ḥasyr [59]:21)
Jika gunung yang keras dan kokoh saja dapat tunduk karena keagungan Al-Quran, maka hati manusia yang lembut dan memiliki kesadaran tentu lebih layak untuk tersentuh dan berubah. Dari sinilah kita memahami bahwa kemuliaan manusia sangat berkaitan dengan sejauh mana Al-Quran hadir dalam kehidupannya.
Puasa yang diwajibkan di bulan Ramadhan pun sejatinya berfungsi sebagai sarana untuk membersihkan jiwa dan menyiapkan hati agar mampu menerima cahaya Al-Quran.
Puasa bukan tujuan akhir, melainkan jalan untuk menundukkan hawa nafsu, melembutkan hati, dan membuka ruang perenungan. Tanpa interaksi yang kuat dengan Al-Quran, puasa berpotensi kehilangan makna spiritualnya.
Islam menegaskan bahwa kemuliaan manusia di sisi Allah SWT tidak diukur dari aspek lahiriah, melainkan dari ketakwaannya. Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti” (QS. Al-Ḥujurāt [49]:13)
Ketakwaan tidak mungkin terwujud tanpa bimbingan Al-Quran. Oleh karena itu, sebagaimana Ramadhan dimuliakan karena Al-Quran yang diturunkan di dalamnya, manusia pun akan dimuliakan ketika Al-Quran benar-benar hadir dalam hati, pikiran, dan perbuatannya.
Dengan demikian, Ramadhan sejatinya bukan hanya momentum ritual tahunan, tetapi juga kesempatan spiritual untuk menghadirkan kembali Al-Quran sebagai pusat orientasi hidup. Ramadhan mengajak umat Islam untuk tidak sekadar membaca Al-Quran, tetapi menjadikannya pedoman dalam bersikap, memilih, dan mengambil keputusan.
Akhirnya, kemuliaan Ramadhan memberikan pesan yang sangat mendalam, yaitu kemuliaan sejati lahir dari kedekatan dengan Al-Quran. Sebagaimana Ramadhan menjadi Sayyidus Syuhūr karena Al-Quran, semoga setiap pribadi muslim pun dapat menjadi mulia karena menjadikan Al-Quran sebagai cahaya dalam kehidupannya.
(VISCHA/ HUMAS dan Media Masjid Istiqlal)