Oleh : DR. KH. Muchlis Hanafi, MA
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Allah menggunakan kata “fi khusr” (dalam kerugian) dan bukan “fi al-khusr” (dalam kerugian tertentu). Hal ini memiliki makna yang mendalam. Kata yang tidak menggunakan alif lam (نكارة) ini dapat menunjukkan dua hal.
Pertama, kerugian yang sangat besar (lit ta'zhîm), yang hakikatnya hanya diketahui oleh Allah. Ini menggambarkan betapa beratnya dosa manusia karena dilakukan terhadap Allah yang Maha Agung atau sebagai balasan atas nikmat besar yang telah Allah berikan.
Kedua, kerugian ini juga bisa dimaknai sebagai sesuatu yang lebih kecil (lit taqlîl) dibandingkan kerugian iblis, sehingga memberikan kabar gembira bahwa manusia masih memiliki harapan untuk bertobat.
Namun, hemat penulis tafsir yang lebih tepat adalah yang pertama, yaitu menekankan betapa besar kerugian manusia ketika mereka berdosa kepada Allah. Kerugian ini tidak hanya melibatkan kehilangan duniawi, tetapi juga hilangnya kesempatan untuk meraih kebahagiaan abadi di akhirat.
Penggunaan frase “lafī khusr” (benar-benar berada dalam kerugian), yang menggambarkan manusia seolaholah tenggelam sepenuhnya dalam kerugian, dikelilingi oleh kerugian dari segala sisi. Huruf fî dalam bahasa Arab mengandung makna lil istigrâq (tenggelam). Selain itu, Allah menggunakan kata “inna” yang berfungsi sebagai penegasan, dan menambahkan huruf lam dalam “lafī khusr” untuk memperkuat makna tersebut.
Ayat ini menunjukkan manusia tidak pernah lepas dari kerugian. Kerugian itu adalah kehilangan modal utama manusia, yaitu umurnya. Hampir tidak mungkin seorang manusia melewati waktu tanpa menyia-nyiakan sebagian dari umurnya.
Setiap saat yang berlalu, jika digunakan untuk maksiat, tentu itu adalah kerugian yang nyata. Bahkan jika dihabiskan untuk hal-hal mubah, itu pun tetap dianggap kerugian karena waktu tersebut berlalu tanpa meninggalkan jejak yang bermanfaat, padahal waktu tersebut bisa digunakan untuk melakukan amal yang pahalanya abadi. Jika waktu itu dihabiskan dalam ketaatan, tetap ada kemungkinan kerugian, karena setiap amal ketaatan bisa dilakukan dengan cara yang lebih baik dan lebih sempurna.
Tingkat ketundukan dan kekhusyukan kepada Allah tidak terbatas, sebagaimana keagungan dan kekuasaan Allah juga tidak terbatas. Semakin dalam pemahaman seseorang tentang keagungan Allah, semakin besar rasa takutnya kepada-Nya, dan semakin sempurna penghormatannya dalam menjalankan ketaatan.
Oleh karena itu, memilih ketaatan dengan tingkatan yang lebih rendah dibandingkan yang lebih tinggi tetap merupakan bentuk kerugian. Dengan demikian, manusia tidak akan pernah sepenuhnya lepas dari kerugian.
Ayat ini juga menjadi pengingat bahwa keadaan dasar manusia adalah dalam kerugian dan kekecewaan. Kebahagiaan sejati manusia terletak pada cinta kepada akhirat dan berpaling dari dunia. Namun, sebab-sebab yang mendorong cinta kepada akhirat sering tersembunyi, sedangkan sebab-sebab yang mendorong cinta kepada dunia sangat nyata, seperti dorongan panca indra, nafsu, dan amarah.
Karena itulah, sebagian besar manusia sibuk dengan dunia dan tenggelam dalam mengejarnya, sehingga mereka terjebak dalam kerugian dan kehancuran. Dalam Surah At-Tin Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya” (QS. At-Tin: 4-5), yang menunjukkan bahwa manusia memulai dalam keadaan sempurna lalu berakhir dalam kehinaan.
Sedangkan di sini (Surah Al-‘Ashr) manusia digambarkan memulai dari kerugian dan berakhir menuju kesempurnaan. Bagaimana menyelaraskan kedua konsep ini?
Menurut pakar tafsir Al-Razi, ayat dalam Surah At-Tin membicarakan keadaan jasmani manusia, sedangkan ayat dalam Surah Al-‘Ashr membicarakan keadaan ruhani manusia. Maka, tidak ada kontradiksi antara kedua pernyataan tersebut. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)