Foto: Ahmad Hidayat

Seni Menjaga Diri dan Memilih Sahabat dalam Hikmah Surah Al-Baqarah Ayat 36

Muhammad Rizki Putra Ramadhan 28 Sep 2026

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak selalu terjatuh dalam kesalahan karena sejak awal berniat melakukan keburukan. Sering kali, kesalahan justru bermula dari hal-hal kecil yang perlahan membawa seseorang semakin jauh dari batas yang seharusnya dijaga. Karena itu, menjaga diri dan memilih lingkungan pergaulan menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim.

Dalam kajian tafsir Surah Al-Baqarah ayat 36 di Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA menjelaskan kisah Nabi Adam AS dan Hawa ketika berada di surga. Dari kisah tersebut, terdapat sejumlah pelajaran yang relevan dengan kehidupan manusia, terutama tentang bagaimana menjaga diri dari kesalahan dan memilih sahabat yang dapat membawa kepada kebaikan.

Larangan untuk Tidak Mendekati

Dalam kisah Nabi Adam AS dan Hawa, Allah SWT memberikan larangan untuk tidak mendekati pohon tertentu. Al-Qur'an menyebutkan:


وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ

Artinya:
“Dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini”(Q.S Al-Baqarah [2]:35)

Prof. Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa penggunaan kata wala taqraba yang berarti “jangan mendekati” memiliki makna penting. Dalam Al-Qur'an, bentuk larangan serupa juga ditemukan dalam ayat lain, seperti wala taqrabu az-zina atau “janganlah mendekati zina”.

Menurut beliau, larangan tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengajarkan manusia untuk menjauhi perbuatan dosa, tetapi juga menjauhi hal-hal yang dapat mengantarkan seseorang kepada dosa.

Kesalahan sering kali tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada proses yang mendahuluinya, seperti rasa penasaran, mencoba sesuatu yang awalnya dianggap sepele, atau mulai mendekati lingkungan yang dapat membuka jalan menuju kesalahan. Karena itu, menjaga jarak dari sesuatu yang berpotensi membawa keburukan menjadi salah satu bentuk menjaga diri.

Ketika yang aalah dianggap benar

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang juga dapat mengalami kesulitan membedakan antara orang yang benar-benar mengingatkan dengan orang yang justru membawa kepada kesalahan.

Prof. Nasaruddin Umar menggambarkan bahwa terkadang orang yang memberikan nasihat justru dianggap sebagai pengganggu karena tidak selalu membenarkan keinginan kita. Sebaliknya, orang yang selalu mengikuti keinginan kita dan membenarkan kesalahan dapat dianggap sebagai teman yang menyenangkan.

Padahal, tidak semua orang yang membuat kita nyaman membawa kita kepada kebaikan. Begitu pula, tidak semua teguran berarti bentuk permusuhan.

Karena itu, kemampuan untuk menerima nasihat dan melihat ketulusan seseorang menjadi penting dalam memilih lingkungan pergaulan. Sahabat yang baik bukan hanya orang yang hadir ketika kita senang, tetapi juga orang yang berani mengingatkan ketika kita mulai keluar dari jalan yang benar.

Makna persahabatan dalam islam

Islam memberikan perhatian besar terhadap hubungan antarmanusia. Salah satu konsep yang dikenal dalam tradisi keislaman adalah assuhbah, yaitu persahabatan yang tidak hanya dibangun atas kedekatan sosial, tetapi juga memiliki nilai spiritual.

Persahabatan yang baik seharusnya membantu seseorang untuk menjadi lebih dekat kepada Allah SWT. Ketika bersama sahabat yang baik, seseorang saling mengingatkan dalam kebaikan, saling menjaga, dan membantu ketika salah satu di antara mereka menghadapi kesulitan.

Sahabat sejati bukanlah mereka yang selalu membenarkan kita, melainkan mereka yang tetap berada di sisi kita sambil mengingatkan ketika kita melakukan kesalahan.

Melihat arah akhirat dari lingkungan kita

Prof. Nasaruddin Umar juga mengajak jamaah untuk melihat kembali lingkungan pergaulan masing-masing. Dengan siapa seseorang menghabiskan waktunya dapat memberikan pengaruh terhadap cara berpikir, sikap, dan kebiasaannya.

Mengutip hikmah Ibnu 'Athaillah as-Sakandari, beliau menyampaikan bahwa salah satu cara untuk melihat arah perjalanan seseorang adalah dengan memperhatikan siapa yang menjadi sahabatnya dan dengan siapa ia banyak menghabiskan waktu.

Jika lingkungan kita dipenuhi orang-orang yang mengajak kepada kebaikan, menghadiri majelis ilmu, serta saling mengingatkan dalam kebenaran, maka lingkungan tersebut dapat menjadi sarana untuk menjaga diri dan memperkuat keimanan.

Sebaliknya, lingkungan yang terus mendorong seseorang menjauh dari nilai-nilai kebaikan dapat perlahan memengaruhi dirinya, bahkan ketika pada awalnya ia merasa mampu untuk tetap menjaga diri.

Menjaga diri dan memilih lingkungan

Kisah Nabi Adam AS dan Hawa memberikan pelajaran bahwa manusia perlu memahami batas dan berhati-hati terhadap hal-hal yang dapat membawanya kepada kesalahan. Menjaga diri bukan hanya tentang menghindari perbuatan dosa, tetapi juga menjauh dari jalan yang dapat mengantarkan kepadanya.

Di sisi lain, memilih sahabat dan lingkungan juga menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup seorang Muslim. Persahabatan yang baik dapat menjadi pengingat ketika seseorang mulai lalai dan menjadi tempat untuk saling menguatkan dalam kebaikan.

Pada akhirnya, menjaga diri dan memilih sahabat bukan hanya tentang bagaimana menjalani kehidupan di dunia, tetapi juga tentang menentukan arah perjalanan kita menuju kehidupan akhirat.

Fotografer
Ahmad Hidayat

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.