Jakarta, www.istiqlal.or.id - Pada malam ke-14 Ramadhan, tausiyah yang disampaikan oleh Asep Saepuddin Jahar, mengangkat kisah Nabi Nuh Alaihissalam dengan tema “Memetik Hikmah dan Kisah Nabi Nuh a.s. dan Kaumnya”, Senin (2/3/2026).
Dalam tausiyahnya, Asep Saepuddin Jahar, menjelaskan bahwa Nabi Nuh Alaihissalam diutus oleh Allah SWT kepada kaumnya yang telah melupakan ajaran tauhid dan kembali kepada penyembahan berhala serta menyembah leluhur.
Padahal, Nabi Nuh hidup tidak jauh dari masa Nabi Adam Alaihissalam, namun generasi setelahnya mulai meninggalkan keimanan kepada Allah SWT. Al-Quran menggambarkan lamanya perjuangan Nabi Nuh Alaihissalam dalam berdakwah kepada kaumnya. Hal ini disebutkan dalam firman Allah SWT dalam Surah Al-‘Ankabut ayat 14:
وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖ فَلَبِثَ فِيْهِمْ اَلْفَ سَنَةٍ اِلَّا خَمْسِيْنَ عَامًا ۗفَاَخَذَهُمُ الطُّوْفَانُ وَهُمْ ظٰلِمُوْنَ
Artinya: “Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian, mereka dilanda banjir besar dalam keadaan sebagai orang-orang zalim” (Qs. Al-‘Ankabūt [29]:14)
Ayat ini menunjukkan bahwa Nabi Nuh Alaihissalam berdakwah selama 950 tahun kepada kaumnya. Namun dari waktu yang sangat panjang itu, hanya sedikit yang beriman kepada ajaran yang beliau bawa.
Salah satu penyebab utama kaum Nabi Nuh Alaihissalam menolak dakwah yang dibawakannya adalah kesombongan. Mereka merasa lebih mulia, lebih terpandang, dan merendahkan Nabi Nuh As serta para pengikutnya yang berasal dari kalangan sederhana.
Kesombongan tersebut bahkan memengaruhi keluarga Nabi Nuh As sendiri. Dalam peristiwa banjir besar, Nabi Nuh As masih memanggil putranya agar naik ke dalam bahtera dan menyelamatkan diri. Namun sang anak menolak dengan penuh keangkuhan.
Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur’an Surah Hud ayat 42–43:
وَهِيَ تَجْرِيْ بِهِمْ فِيْ مَوْجٍ كَالْجِبَالِۗ وَنَادٰى نُوْحُ ِۨابْنَهٗ وَكَانَ فِيْ مَعْزِلٍ يّٰبُنَيَّ ارْكَبْ مَّعَنَا وَلَا تَكُنْ مَّعَ الْكٰفِرِيْنَ . قَالَ سَاٰوِيْٓ اِلٰى جَبَلٍ يَّعْصِمُنِيْ مِنَ الْمَاۤءِ ۗقَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ اِلَّا مَنْ رَّحِمَ ۚوَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِيْنَ
Artinya: “Bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung-gunung. Nuh memanggil anaknya, sedang dia (anak itu) berada di tempat (yang jauh) terpencil, “Wahai anakku, naiklah (ke bahtera) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir. Dia (anaknya) menjawab, “Aku akan berlindung ke gunung yang dapat menyelamatkanku dari air (bah).” (Nuh) berkata, “Tidak ada penyelamat pada hari ini dari ketetapan Allah kecuali siapa yang dirahmati oleh-Nya.” Gelombang menjadi penghalang antara keduanya, maka jadilah dia (anak itu) termasuk orang-orang yang ditenggelamkan”(Qs.Hūd [11]:42-43)
Dari kisah ini, Asep Saepuddin mengingatkan bahwa kesombongan sekecil apapun dapat menghalangi seseorang dari keselamatan. Sifat merasa lebih mulia karena jabatan, harta, keturunan, ataupun penampilan adalah bentuk kesombongan yang harus dihindari oleh setiap muslim.
Selain tentang bahaya kesombongan, kisah Nabi Nuh As juga menunjukkan teladan ketekunan dalam berdakwah. Meski ditolak, diejek, bahkan dicemooh, Nabi Nuh As tidak berhenti mengajak kaumnya kepada keimanan.
Al-Quran menggambarkan kesungguhan Nabi Nuh As dalam berdakwah siang dan malam, sebagaimana disebutkan dalam Surah Nuh ayat 5:
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
قَالَ رَبِّ اِنِّيْ دَعَوْتُ قَوْمِيْ لَيْلًا وَّنَهَارًاۙ
Artinya: “Dia (Nuh) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam”(Qs. Nūḥ [71]:5)
Keteladanan ini menjadi pelajaran bagi setiap muslim, terutama bagi orang tua dan pemimpin keluarga, untuk tidak lelah mengajak kepada kebaikan. Tantangan zaman yang semakin kompleks, terutama pengaruh teknologi dan media sosial, menuntut kesabaran yang lebih besar dalam membimbing anak-anak dan keluarga.
Ajakan kepada kebaikan juga harus dilakukan dengan cara yang santun. Nabi Nuh As memanggil kaumnya dengan sebutan penuh kasih, “Ya qaumi” (wahai kaumku), sebagai bentuk kelembutan dalam berdakwah.
Dalam penutup tausiyahnya, Asep Saepuddin Jahar mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah SWT bukanlah penampilan, kekayaan, ataupun status sosial, melainkan iman dan amalnya.
Melalui kisah Nabi Nuh Alaihissalam, kita bisa mengambil pelajaran penting tentang keteguhan iman, kesabaran dalam berdakwah, serta tanggung jawab menjaga keluarga agar tetap berada di jalan kebaikan. Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa keimanan harus terus dirawat hingga akhir kehidupan. (VISCHA/ HUMAS & MEDIA MASJID ISTIQLAL)