Foto: Ahmad Hidayat

Makna Sujud Malaikat kepada Nabi Adam AS dan Pelajaran tentang Tawaduk

Muhammad Rizki Putra Ramadhan 30 Sep 2026

Kisah Nabi Adam AS dalam Al-Qur'an menyimpan banyak pelajaran tentang kedudukan manusia dan bagaimana seharusnya manusia menjalani kehidupannya. Salah satu bagian yang menarik untuk direnungkan adalah ketika Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Nabi Adam AS.

Apakah sujud tersebut berarti menyembah Nabi Adam AS? Apa yang membuat manusia mendapatkan penghormatan tersebut? Dan mengapa Iblis justru menolak perintah Allah SWT?

Dalam kajian tafsir Surah Al-Baqarah ayat 34 di Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA menjelaskan makna di balik peristiwa tersebut sekaligus mengajak jamaah untuk melihat kembali bahaya kesombongan dan pentingnya sikap tawaduk dalam kehidupan.

Makna Sujud Malaikat kepada Nabi Adam AS

Perintah Allah SWT kepada para malaikat untuk bersujud kepada Nabi Adam AS tidak berarti bahwa malaikat menyembah Nabi Adam. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa sujud tersebut merupakan bentuk penghormatan, bukan penyembahan.

Prof. Nasaruddin Umar menjelaskan hal tersebut melalui perumpamaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketika umat Islam melaksanakan salat dan menghadap Ka'bah, yang disembah bukanlah Ka'bah, melainkan Allah SWT. Ka'bah menjadi kiblat atau arah yang ditentukan Allah dalam pelaksanaan ibadah.

Demikian pula dengan sujud para malaikat kepada Nabi Adam AS. Sujud tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap manusia yang mendapatkan keistimewaan dari Allah SWT.

Hal serupa dapat ditemukan dalam hubungan antara murid dan guru. Seorang murid dapat memberikan penghormatan kepada gurunya, misalnya dengan mencium tangan, tanpa menjadikan guru tersebut sebagai sesuatu yang disembah.

Apa yang Membuat Manusia Mendapat Penghormatan?

Jika manusia diciptakan dari tanah, lalu apa yang membuatnya mendapatkan penghormatan dari para malaikat?

Prof. Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa manusia memiliki beberapa unsur dalam dirinya, yaitu jasad, nyawa, dan roh. Jasad merupakan bagian fisik manusia, sedangkan nyawa menjadi unsur yang memungkinkan manusia hidup. Selain itu, terdapat roh yang Allah SWT tiupkan kepada manusia sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an.

Allah SWT berfirman:

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ

“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan Aku telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”
(QS. Al-Hijr: 29)

Menurut penjelasan Prof. Nasaruddin, penghormatan tersebut bukan semata-mata karena bentuk fisik manusia, tetapi karena adanya keistimewaan yang Allah berikan kepada manusia, termasuk ilmu dan roh yang ditiupkan kepadanya.

Hal ini juga menunjukkan bahwa kemuliaan manusia tidak seharusnya hanya dilihat dari apa yang tampak secara lahiriah.

Kesombongan Iblis dalam Memandang Nabi Adam

Berbeda dengan para malaikat yang menjalankan perintah Allah SWT, Iblis menolak untuk bersujud kepada Nabi Adam AS. Penolakan tersebut dilandasi oleh kesombongan.

Iblis memandang dirinya lebih tinggi karena diciptakan dari api, sedangkan Nabi Adam AS diciptakan dari tanah. Ia melihat perbedaan asal penciptaan tersebut sebagai ukuran kemuliaan.

Dari kisah tersebut, manusia mendapatkan pelajaran penting bahwa kesombongan dapat membuat seseorang salah dalam melihat orang lain. Ketika seseorang merasa dirinya lebih tinggi karena harta, kedudukan, penampilan, ilmu, atau latar belakang, ia berisiko merendahkan orang lain tanpa menyadari bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kemuliaan yang diberikan Allah SWT.

Karena itu, manusia tidak seharusnya menilai seseorang hanya berdasarkan apa yang terlihat. Kemuliaan di sisi Allah tidak ditentukan oleh penampilan atau kedudukan duniawi, melainkan oleh ketakwaan.

Belajar Tawaduk dari Kisah Nabi Adam AS

Kisah ini juga mengajarkan pentingnya menjaga sikap rendah hati atau tawaduk. Apa pun yang dimiliki manusia pada dasarnya merupakan pemberian Allah SWT.

Jabatan, harta, kesehatan, ilmu, dan berbagai kenikmatan yang dimiliki manusia dapat berubah sewaktu-waktu. Ketika mendapatkan nikmat, manusia tidak seharusnya menjadi sombong. Sebaliknya, ketika menghadapi musibah, manusia juga perlu menyadari bahwa kehidupan memang memiliki berbagai ujian.

Sikap tawaduk membuat seseorang tidak mudah merasa lebih tinggi dari orang lain. Ia menyadari bahwa segala sesuatu yang dimilikinya merupakan amanah dan pemberian Allah SWT.

Pelajaran dari Kisah Sujud Malaikat

Kisah perintah sujud kepada Nabi Adam AS bukan hanya tentang peristiwa yang terjadi pada masa awal penciptaan manusia. Di dalamnya terdapat pelajaran yang masih relevan bagi kehidupan manusia hingga saat ini.

Manusia perlu menjaga apa yang telah Allah SWT titipkan dalam dirinya dan tidak menjadikan kelebihan yang dimiliki sebagai alasan untuk merasa lebih baik daripada orang lain.

Sebaliknya, kisah Iblis mengingatkan bahwa kesombongan dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk melihat kemuliaan yang ada pada orang lain.

Pada akhirnya, semakin banyak kelebihan yang Allah berikan kepada seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk tetap rendah hati. Sebab, manusia tidak memiliki apa-apa secara mutlak. Semua yang dimiliki hanyalah titipan dari Allah SWT.

Fotografer
Ahmad Hidayat

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.