Oleh : Prof. Dr. KH. Achmad Satori Ismail (Ketua Dewan Syuro IKADI)
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Ma’asyiral mukminin rahimakumullah. Tujuan negara Republik Indonesia yang secara jelas tertuang dalam UUD 1945 Alinea ke-4, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; memajukan kesejahteraan umum; mencerdaskan kehidupan bangsa; dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
1. Tujuan pertama, Bangsa Indonesia bertujuan untuk 'Melindungi setiap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia', yaitu semua komponen pembentuk bangsa. Mulai dari rakyat, kekayaan alam hingga nilai-nilai bangsa.
2. Tujuan Kesejahteraan, Bangsa Indonesia bertujuan untuk 'memajukan kesejahteraan umum'. Parameter tujuan ini memiliki tiga unsur kecukupan berupa sandang (pakaian), pangan (makan) dan papan (tempat tinggal). Kesejahteraan umum tidak hanya mencakup tentang ekonomi dan materi saja. Kesejahteraan lahir dan batin juga perlu diperhatikan.
3. Tujuan Pencerdasan, yang satu ini untuk memastikan warga negara Indonesia memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan berkualitas serta layak
4. Tujuan Perdamaian, yaitu 'melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial'. Baik perdamaian di dalam negeri ataupun perdamaian di luar negeri.
Ma'asyiral mu'minin rahimakumullah. Agama berperan sangat penting dalam mengatur sendi-sendi kehidupan manusia dan mengarahkannya kepada kebaikan bersama. Umat Islam bisa berperan dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan berahlak mulia. Dan menunaikan kewajiban agama dengan baik sesuai dengan arahan al-Quran.
اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا كَبِيْرًاۙ
Artinya : “Sungguh, al-Qur'an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar” (QS. al-Isra’ : 9).
Untuk memaksimalkan peran umat Islam bersinergi dengan pemerintah guna mencapai tujuan bernegara yang mulia di atas, marilah kita merenungi ayat 1-7 dari surat al-Mudatsir dan menerapkannya dalam kehidupan kita sehari hari. Allah subhanahu wata'ala berfirman :
يٰٓاَيُّهَا الْمُدَّثِّرُۙ (1) قُمْ فَاَنْذِرْۖ (2) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْۖ (3) وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْۖ (4) وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْۖ (5) وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُۖ (6) وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْۗ (7)
Artinya : “Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah” (QS. al-Muddatstsir : 1-7).
Kedepan bangsa ini akan menghadapi berbagai macam krisis: krisis keimanan krisis moral, krisis ketenangan jiwa, krisis keluarga, krisis kepemimpinan dsb, sudah seharusnya kita agar meniti lima prinsip dalam berkontribusi dan ikut serta menggapai tujuan bernegara. Lima prinsip tersebut dijelaskan dalam awal surat al Muddatstsir tersebut yaitu: mengagungkan Allah semata, melakukan tazkiyatun-nafs dan membersihkan penampilan, menjauhi semua bentuk kesyirikan, berani berkorban dan Bersabar dalam perjuangan.
Marilah kita menguak lima hal ini agar setaip rakyat Indonesia memiliki dalam bersinergi menggapai cita-cita bernegara :
Pertama, hanya Allah yang paling diagungkan.
Setiap bangsa yang ingin membangun masa depan gemilang harus yakin bahwa Allah harus dijadikan dalam dirinya sebagai yang paling diagungkan. Karena Allah-lah yang menyebabkan kita menang dan hanya Allah-lah Yang Maha Besar. Kita harus menyandarkan diri kita kepada Allah dalam segala halnya. Cobalah perhatikan! Ketika pengikut Thalut mau berperang melawan Jalut, mereka meminta kepada Allah dilimpahkan kesabaran dan dikokohkan pendirian dan langkah mereka dimana mereka berkata :
وَلَمَّا بَرَزُوْا لِجَالُوْتَ وَجُنُوْدِهٖ قَالُوْا رَبَّنَآ اَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَّثَبِّتْ اَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ ۗ
Artinya : Tatkala mereka nampak oleh Jalut dan tentaranya, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdo'a: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir” (QS. al-Baqarah : 250).
Kedua, melakukan tazkiyatun-nafs dan membersihkan penampilan jasmani dan rohani.
Para Nabi adalah makhluk pilihan. Walaupun Allah telah menyempurnakan akal dan anugerah kepada mereka akan tetapi Allah memerintah mereka untuk melakukan pensucian jiwa sebelum menyampaikan dakwah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diperintah Allah untuk melakukan qiyamullail agar bisa mengemban amanah dakwah. Sebagaimana difirmankan Allah :
يٰٓاَيُّهَا الْمُزَّمِّلُۙ (1) قُمِ الَّيْلَ اِلَّا قَلِيْلًاۙ (2) نِّصْفَهٗٓ اَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيْلًاۙ (3) اَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًاۗ (4) اِنَّا سَنُلْقِيْ عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيْلًا (5)
Artinya : “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur'an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat” (QS. al-Muzammil : 1-5).
Ketika Allah subhanahu wata'ala mengutus para Rusul dengan membawa petunjuk dan dijadikan sebagai pemimipin umat manusia, tidak membiarkan mereka tanpa pengarahan untuk memiliki bekal, sebagaimana ditegaskan Allah sebagai berikut :
وَجَعَلْنٰهُمْ اَىِٕمَّةً يَّهْدُوْنَ بِاَمْرِنَا وَاَوْحَيْنَآ اِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرٰتِ وَاِقَامَ الصَّلٰوةِ وَاِيْتَاۤءَ الزَّكٰوةِۚ وَكَانُوْا لَنَا عٰبِدِيْنَ ۙ
Artinya : “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah” (QS. al-Anbiya : 73).
Pensucian jiwa merupakan bekal penting untuk menghadapi berbagai macam tantangan dan godaan materialisme. Allah berfirman kepada Nabi Musa dan Nabi Harun alaihis salam sebagai berikut (yang artinya) : Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku (QS. Thahaa : 42).
Untuk menggapai cita-cita agung, harus dilakukan oelh orang-orang yang memiliki kemauan kuat dan cita-cita tinggi. Beban ini tidak bisa dipikul kecuali oleh orang-orang yang memiliki taazkiyatun-nafs dan cara-cara bertaqarrub kepada Allah, sebagaimana firman Allah (yang artinya) : Dan orangorang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benarbenar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik (QS. al-Ankabut : 69).
Untuk menggapai cita-cita berbangsa, umat ini harus membersihkan diri dari berbagai kekotoran akidah, kekotoran akhlak, kekotoran kehidupan dan kotoran lainnya. Benak kita harus bersih dari niat dan fikiran kotor. Mulut kita harus terlepas dari omongan yang tidak ada gunanya, omongan jorok dan kotor. Hati kita tidak ada su’udzan dan niat yang jelek. Semua anggota badan kita tidak memiliki tanda-tanda kekufuran dan kekotoran tradisi. kita wajib membersihkan penanmpilan kita. Kita harus tampil sebagai muslim kaffah, penuh kelembutan dan kasih sayang.
Ketiga, menjauhi segala bentuk kekufuran dan kesyirikan.
Kesyirikan adalah penyebab turunnya siksa dunia dan akhirat. Jalan setiap muslim adalah jalan lurus yang tiada kesyirikan sedikitpun. Allah berfirman :
وَاَنَّ هٰذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ ۚوَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهٖ ۗذٰلِكُمْ وَصّٰىكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
Artinya : “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa” (QS. al-An’am : 153)
Kesyirikan adalah penyebab pokok munculnya krisis moral. Krisis moral adalah penyebab lahirnya semua krisis di dunia. Sedangkan keimanan adalah penyebab turunnya berkah dari langit dan bumi. Allah berfirman : “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. al-A’raf : 96).
Secara individu, kalau ingin bangkit menuju masa depan yang baik harus rasional dan jauh dari kesyirikan. Demikian juga suatu bangsa bila ingin bangkit maka harus menjauhkan semua prinsip kekufuran dan kesyirikan. Tayangan media elektronik dan berita-berita di berbagai media cetak harus dijauhkan dari prinsip-prinsip kesyirikan.
Keempat, harus berani berkorban untuk agama, nusa dan bangsa.
Ayat 6 dari surat al-Muddatstsir menyatakan : “Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak”. Ayat ini mendorong kita untuk memberikan pengorbanan menuju puncak kebangkitan dan tidak mengajarkan untuk mendapatkan sesuatu tanpa usaha.
Ada tiga unsur utama yang diperlukan untuk membangun umat. Pertama risalah; kedua keyakinan terhadap risalah. Dan ketiga; orang-orang yang mau berkorban memperjuangkan risalah tersebut.
Kelima, bersabar di jalan menuju cita-cita mulia bangsa ini, tidaklah bertaburan bunga tapi penuh dengan onak dan duri.
Tidak pernah seorang yang memperjuangkan cita-cita bangsa yang besar tanpa tantangan. Inilah yang mengharuskan kita bersabar dan melipatgandakan kesabaran. Allah berfirman:
وَلَقَدْ نَعْلَمُ اَنَّكَ يَضِيْقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُوْلُوْنَۙ (97) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِّنَ السّٰجِدِيْنَۙ (98) وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ ࣖࣖ (99)
Artinya : “Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)” (QS. al-Hijr : 97 - 99).
Dalam ayat lain disebutkan (yang artinya) : “Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang” (QS. Thaha : 130).
Itulah 5 (lima) sendi sebagai upaya setiap individu untuk menggapai cita-cita bersama dalam bernegara. Bangsa Indonesia sangat membutuhkan rakyat yang memegang teguh 5 (lima) sendi kebangkitan tersebut untuk menuju Indonesia gemilang di masa yang akan datang.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.