Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat: Hakikat Ikhlas dan Ridho dalam Kehidupan Seorang Muslim

Admin 17 Jul 2025 Warta Istiqlal

Oleh : Drs. H. Hasanuddin Sinaga, MA 

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Membicarakan tema tentang “Ikhlas dan Ridho" sungguh merupakan tema yang berat. Tidak hanya berat untuk dibahas, dibicarakan. Akan tetapi, menghindar dari membicarakannya akan mengakibatkan resiko/ dampak yang jauh lebih berat lagi.

معاشر المسلمين Dalam percakapan sehari-hari, sebagian kita seakan menyamakan ikhlas, rela dan ridho. Kita sering mendengar orang berkata “Ya sudah Ikhlas tidak mendapat bagian” atau ketika seseorang mendapat musibah lantas dia berkata “Ya sudahlah saya ikhlas menerima musibah ini” sesungguhnya yang tepat adalah saya rela atau saya ridho menerima cobaan/ musibah ini.

Apa sesungguhnya makna “ikhlas” dalam pandangan/ pengertian agama? Dari segi bahasa “Ikhlas” itu terambil dari akar kata yang bermakna murni, suci; setelah sebelumnya bercampur sesuatu dengan yang lain. 

Apabila seseorang sudah menyingkirkan apa yang ada dan yang bercampur sebelumnya maka berarti dia sudah melakukan pengikhlasan. Sesuatu memang sudah murni sejak semula tidak dinamai khalis. Sesuatu yang khalis itu tadinya bercampur, lantas disingkirkan yang mencampuri sesuatu itu, jadilah ia “Khalis”.

Kata ikhlas dalam AL Qur’an disebutkan dalam berbagai bentuknya. Ada “Khalis”, ada “Mukhlisan”, ada “Mukhlisin” ada “Mukhlasin” itu semua ada dalam Al Qur’an terulang sebanyak tiga puluh satu kali. Apa beda “Mukhlisin” dan “Mukhlasin” ? 

Mukhlisin adalah orang yang selalu berupaya untuk ikhlas, dan ikhlas berproses terus  sepanjang hisupnya. Karena memang keikhlasan itu bisa terganggu sewaktu memulai suatu amal atau pekerjaan, bisa juga saat memulai amal sudah ikhlas, tapi ditengah jalan tidak ikhlas (ada yang tercampur). Boleh jadi, di tengah jalan sudah bagus, sudah ikhlas, tyapi si akhir amal atau ibadah menjadi tidak ikhlas. Itulah sulitnya ikhlas. 

Akan tetapi, setiap kali terlintas di dalam benak (hati) sesuatu kekeruhan (ada sesuatu yang tercampur dalam hati), kalau ada upaya untuk menyingkirkan kekeruhan itu, maka itu masih bisa disebut ikhlas lagi! Memang ada ulama yang ketat mengatakan kalau sudah tercampur tidak bisa disebut ikhlas. Tapi ulama yang lain berkata masih bisa disebut ikhlas. 

Karena apa? Karena memang sulit ikhlas itu. Karena kita manusia, selalu bisa timbul dorongan dan gangguan hawa nafsu, setan bisa datang. Tetapi, begitu dia datang, begitu kekeruhan hati timbul, kita singkirkan yang keruh maka itu berarti kita melakukan pengikhlasan. Itu makna Mukhlisin. 

Sedangkan kata Mukhlasin bermakna orang yang dipilih oleh Allah sehingga hatinya selalu ikhlas. Nabi Yusuf a.s. disebut di dalam Al Qur’an  sebagai mukhlasin. Dalam surat Yusuf ayat 24, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهٖۙ وَهَمَّ بِهَا ۚ لَوْلَآ اَنْ رَّاٰ بُرْهَانَ رَبِّهٖۗ  كَذٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوْۤءَ وَالْفَحْشَاۤءَۗ اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِيْنَ

Artinya: "Sungguh, perempuan itu benar-benar telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Yusuf pun berkehendak kepadanya sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya.369) Demikianlah, Kami memalingkan darinya keburukan dan kekejian. Sesungguhnya dia (Yusuf) termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih." (Yūsuf [12]:24)

معاشر المسلمين

Setiap amal dan ibadah harus dilakukan dengan ikhlas. Banyak ayat Al Qur’an yang memerintahkan kita agar berbuat dan beramal dengan ikhlas. Misalnya :

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Bayyinah [98]:5,

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ

Artinya: “Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar).”


QS. Az Zumar ayat 11 s.d ayat 14 :

قُلْ اِنِّيْٓ اُمِرْتُ اَنْ اَعْبُدَ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَ (11) وَاُمِرْتُ لِاَنْ اَكُوْنَ اَوَّلَ الْمُسْلِمِيْنَ (12) قُلْ اِنِّيْٓ اَخَافُ اِنْ عَصَيْتُ رَبِّيْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ (13) قُلِ اللّٰهَ اَعْبُدُ مُخْلِصًا لَّهٗ دِيْنِيْۚ (14)

Artinya: "Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. Aku diperintahkan untuk menjadi orang pertama (dari umatnya) yang berserah diri (kepada Allah).” Katakanlah, “Sesungguhnya aku takut azab pada hari yang besar (kiamat) jika aku durhaka kepada Tuhanku.” Katakanlah, “Hanya Allah yang aku sembah dengan mengikhlaskan ketaatanku kepada-Nya.”

Bahkan dikatakan hanya milik Allah agama yang murni (suci) dari kesyirikan QS. Az Zumar : 3, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اَلَا لِلّٰهِ الدِّيْنُ الْخَالِصُ ۗوَالَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖٓ اَوْلِيَاۤءَۘ مَا نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَآ اِلَى اللّٰهِ زُلْفٰىۗ اِنَّ اللّٰهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِيْ مَا هُمْ فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ ەۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ كٰذِبٌ كَفَّارٌ

Artinya: “Ketahuilah, hanya untuk Allah agama yang bersih (dari syirik). Orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata,) “Kami tidak menyembah mereka, kecuali (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar [39]:3)

Ikhlas ini dinakaman amal Kalbu. Shalat, Haji dan sunnah ibadah lainnya ada amal fisiknya. Setiap amal fisik harus disertai dengan amal kalbu. Ikhlas sendiri merupakan amal kalbu bukan amal fisik.

Ikhlas itu adalah memantapkan niat dengan menyingkirkan segala sesuatu selain dari Allah. Jadi ada 2 unsur dalam ikhlas tersebut. Pertama, Mantapkan niat. Sudah mantap niat selanjutnya lihat, masih adakah sesuatu selain dari Allah, kalau masih ada ikhlaskanlah ! Apa maksudnya singkirkanlah, sucikanlah, murnikanlah ! sehingga yang tinggal hanya ada Allah.

Apa bahayanya amal yang dilakukan dengan tidak ikhlas ? Al Qur’an mengumpamakannya dengan sangat menyentuh hati dan redaksi yang dipilih sangat tepat. Dalam surat Al Baqarah ayat 264, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ  كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ  فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلْدًا ۗ  لَا يَقْدِرُوْنَ عَلٰى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوْا ۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jangan membatalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia, sedangkan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu licin yang di atasnya ada debu, lalu batu itu diguyur hujan lebat sehingga tinggallah (batu) itu licin kembali. Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum kafir.” (QS. Al-Baqarah  [2]:264)

Redaksi yang dipilih Al Qur’an sangat tepat dan menggetarkan hati. Perumpamaan orang yang bersedekah (beramal) karena riya bukan karena ikhlas seperti batu yang licin ( صَعُوَانٍ) yang di atasnya ada debu, kemudian batu yang licin itu ditimpa hujan lebat, maka apakah mungkin masih ada debu yang tinggal dan menempel di batu tersebut ? Tentu tidak, Al Qur’an mengumpamakan dengan batu licin, karena memang batu itu bermacam-macam. 

Ada batu yang berlubang-lubang, ada juga batu yang retak-retak. Debu yang menempel dibatu yang berlubang-lubang masih ada kemungkinan tetap menempel di lubang-lubang batu tersebut meskipun sudah diguyur hujan. 

Akan tetapi, tidak mungkin ada debu yang menempel di batu licin dan batu licin itu diguyur hujan lebat  (فَاصَابَهُ وابل) tidak ada yang tersisa. Itulah perumpamaan amal yang tidak ikhlas.

معاشر المسلمين Apa dampak dari ikhlas ? Dampaknya yang paling besar adalah ketenangan jiwa. Siapa yang perhatiannya tertuju hanya kepada satu (Allah) maka itu jelas jiwanya lebih tenang. Daripada mau ini, mau itu, mau dipuji ini, mau disanjung itu maka pasti jiwanya tidak tenang. 

Selanjutnya, orang yang ikhlas itu tidak segan memuji orang yang melakukan kebaikan. Namun pada saat bersamaan orang yang ikhlas itu takut dihinggapi  sesuatu yang bertentangan dengan keikhlasan. 

Orang ikhlas itu takut dengan pujian, orang ikhlas itu takut amalnya tidak diterima. Jadi, walaupun dia sudah ikhlas, dia tidak mengandalkan keikhlasannya. Orang yang ikhlas itu selalu menuduh dirinya bahwa amalan saya belum sempurna. Begitulah dampak yang ditimbulkan oleh ikhlas.

معاشر المسلمين Dari “Ikhlas” kita pindah ke tema “Ridha”. Apa yang dimaksud Ridha ? dalam literatur ilmu tasawuf dijelaskan bahwa dalam perjalanan spiritual, seseorang akan melewati maqam Tawakkal. Ujung dari tawakkal adalah ridha. 

Disebutlah ujung tawakkal awal ridha. Sama seperti maqam wara’ dan zuhud. Ujung dari wara’ adalah zuhud sehingga disebut ujung wara’ awal zuhud. Ridha adalah تهايةُ التوكّل Begitu dijelaskan dalam Kitab Risalah Qusyairiyyah karangan Imam Al Qusyairi.

معاشر المسلمين Seorang muslim di dalam hidupnya harusnya tidak boleh lepas dari 4 hal : usaha, ikhtiar, do’a dan tawakkal. Setelah tawakkal maka apapun hasilnya diterima dengan ridha. Abu Ali Addaqo’ berkata : 

لَيْسَ الِرَّ ضَا اَلاَ تُحِسَّ بِالبَلاَء إنما الرّضَا الاّ تعترض على الحكم والقضا  

Ridha itu bukan berarti engkau tidak merasakan ujian yang diberikan oleh Allah (dia tetap punya rasa kehilangan, sedih), tetapi yang dimaksud dengan ridha adalah engkau tidak menolak keputusan dan takdir dari Allah SWT.

Berkata para guru Imam Al Qusyairi : قَالَ المَشَايخ الرّضَا بَابُ اللهِ الاعظم Ridha adalah pintu yang paling besar menuju Allah. Istana kerajaan dikelilingi oleh benteng. Lalu ada pintu-pintu kecil ada pintu yang paling besar (pintu gerbang). 

Nah pintu gerbang yang besar masuk menuju Allah itulah ridha. Maksudnya, siapa yang di muliakan Allah dengan ada Ridha dalam hatinya maka sesungguhnya dia telah diberikan Allah penerimaan yang sempurna.

وَاُكْرِمَ بِـــــــتَقْرِيْبِ الا على

Maka sesungguhnya dia telah dimuliakan Allah dengan kedekatan dan ketinggian. Siapakah orang yang paling dekat di antara kita kepada Allah ? Orang yang paling Ridha menerima ketepan Allah SWT.

معاشر المسلمين Imam Abd. Wahid bin Zaid berkata :

اَلِّرَّ ضَا بَابُ اللهِ الا عظم وجَنَّةُ الدُنْيَا 
“Ridha adalah pintu Allah yang paling besar dan surga dunia”. Surga itu ada dua, satu di dunia, satu di akhirat. Apakah ada surga di dunia ? Ada, yaitu Ridha. Ketika engkau ridha menerima keputusan Allah, maka saat itu kau sedang berada di surga dunia. Demikian menurut Al Imam Abd. Wahid bin Zaid.

معاشر المسلمين Apa tanda seseorang di ridhai oleh Allah ? Jawabannya, ketika hati kita ridha kepada Allah maka pada saat itupun Allah ridha kepada kita. Allah buat hati kita ridha kepada Allah, maka itu tanda bahwa Allah ridha kepada kita. Allah SWT berfirman dalam banyak ayat Al Qur’an : 

رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْ عَنْهُ
Imam Abu Ali Addaqo’ berkata : Seorang murid bertanya kepada gurunya, apakah seorang hamba bisa tahu bahwa Allah ridha kepadanya ? Gurunya menjawab, Tidak. Sang murud menjawab : Aku tahu kapan Allah ridha kepadaku. Gurunya bertanya lagi : Bagaimana caranya ? Muridnya menjawab :

إذَا وَجَدْتُ قَلْلِبِي رَاضِيًا عَنِ اللهِ عَلِمْتُ اَنَهُ رَاضٍ عَن!ِي 

“Kalau aku dapati hatiku ridha kepada Allah, pada saat aku merasakan hatiku tenang menerima segala takdir dan keputusan Allah, saat itu aku tahu bahwa aku sedang diridhai Allah” 

gurunya menjawab : “Betul engkau muridku” Rabiah Al Adawiyah ditanya : مَتَى يَكُوْنهُ عَبْدُ رَاضِيًا  
“Kapan seorang hamba itu disebut  ridha ? Rabiah menjawab  إذُ سَرُّ تهُ المُصِيْبَةُ كَمَا سَرَّتهُ النّعمةُ 
“Ketika dia dapat musibah hatinya senang sama seperti dapat nikmat” itulah ridha, kata Rabiah

معاشر المسلمين Perjalanan menuju Allah itu panjang. Di dalam Al Qusyairiyyah ada 53 stasiun (maqam). Itulah jalan Riyadhah (latihan). 

Tapi ada jalan Khawas (jalan pintas), jalan potong, jalan yang singkat, tapi jelas ini berat, apa itu? Amalmu di Ridhai Allah, dan engkau Ridha dengan perbuatan Allah. Demikian penjelasan Abu Ali Addaqo’. Mudah-mudahan Allah jadikan kita hamba-Nya yang ridha dan Ridhai. Amin ya Rabbal Alamin. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.