Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat: Dramaturgi Sang Khalifah:Lakon Ekspresi Kesombongan Makhluk

Admin 14 Feb 2025 Warta Istiqlal

Oleh : KH. Mas'ud Halimin, MA
(Wakil Kepala Bidang Peribadatan - BPMI)

Jakarta, www.istiqlal.o.id - Hadirin yang dimuliakan Allah.
Dramaturgi Sang Khalifah bermula ketika Allah subhanahu wata'ala mengumumkan kepada malaikat – termasuk jin – bahwa Allah akan mengangkat sosok khalifah di atas bumi. Dalam al-Qur’an, dramaturgi ini diceritakan dalam banyak ayat di banyak surah yang berbeda. Setidaknya kita bisa menemukan kisah ini dalam QS. Al-Baqarah: 30-37; Al-A’raf: 11-25; al-Isra: 61-65; al-Kahfi: 50; Thaha: 116-123; al-Hijr 28- 40, dan Shad: 71-83. Setiap surah menampilkan inti cerita yang berbeda-beda, sehingga dengan membaca ayat-ayat tersebut kita akan disuguhkan alur cerita yang sama tetapi penekanan pada inti cerita yang berbeda-beda. Epos cerita itu bergulir di antara tiga tokoh utama yang diceritakan di dalamnya, yaitu Malaikat, Adam, dan Iblis.

Secara keseluruhan, Dramaturgi ini menceritakan 6 (enam) tema besar, yaitu: 1). Tentang Penciptaan Adam, 2) Deklarasi pengangkatan Adam sebagai khalifah, 3) Perintah sujud kepada Adam, 4) Ekspresi kesombongan atas perintah Sujud kepada Adam, 5) Sumpah Iblis untuk menggoda manusia, dan 6) Pertaubatan Adam alaihis salam. Pada kesempatan khutbah ini, kita akan melihat satu bagian dari cerita kosmos ini, yaitu reaksi Malaikat dan Iblis atas perintah Allah untuk sujud kepada Adam as. Atas perintah Allah tersebut, Malaikat dan Iblis menampilkan ekspresi yang berbeda.

Pembahasan tentang ini kita dasarkan pada dua surah yaitu QS. Al-Baqarah ayat 30-34 dan QS. Shad ayat 71-77. Dalam Surah al-Baqarah, lebih menonjolkan bagaimana ekspresi malaikat tentang kehadiran Adam alaihis salam sebagai calon khalifah di atas bumi, sedangkan surah Shad lebih menonjolkan ekspresi Iblis ketika mendapat perintah sujud kepada Adam alaihis salam.

Kedua surah ini memulai dramaturgi ini dengan informasi penciptaan Adam dan penugasannya sebagai khalifah di bumi. Dalam Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 30, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Artinya : (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Al-Baqarah [2]: 30)

Sedangkan dalam Qur'an Surah Shad ayat 71, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ خَالِقٌۢ بَشَرًا مِّنْ طِيْنٍ

Artinya : (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah (QS. Shād [38]: 71).

Perbedaan mendasar di antara kedua ayat ini adalah identitas yang dialamatkan kepada Adam sebagai sosok yang ingin diperkenalkan. Dalam Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 30 Allah memperkenalkan Adam sebagai calon khalifah di atas bumi (خَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً) dan pada Surah Shad ayat 71 Allah memperkenalkan Adam sebagai “basyar” (جَالِقٌ بَثَرًا مِّنْ طِيْنٍ) yaitu sosok manusia dewasa dan memiliki kecerdasan berpikir. Surah al-Baqarah lebih menonjolkan fungsi kehadiran Adam, dan surah Shad lebih menonjolkan sosok Adam sebagai manusia. Identitas inilah yang direspon oleh malaikat dalam surah al-Baqarah dan Iblis di surah Shad.

Hadirin yang dimuliakan Allah.
Malaikat ketika mendengar informasi dari Allah akan kehadiran Adam memberikan ekspresi yang seakan-akan mempertanyakan sekaligus meragukan kapasitas Adam sebagai sosok yang akan menjadi khalifah. Di saat yang sama, para malaikat ini menonjolkan kapasitas dirinya, yang seakan akan lebih baik dari Adam alaihis salam. Maka para malaikat ini berkata kepada Allah subhanahu wata'ala:

قَالُوْا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآ ءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمُدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ

Kalimat para malaikat bahwa “padahal kami yang bertasbih dengan memuji-Mu dan mensucikan nama-Mu” memberi kesan Malaikat merasa dirinya lebih pantas daripada Adam alaihis salam. Ekspresi yang ditampilkan malaikat ini ternyata direspon oleh Allah dengan mengatakan “Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Dialog ini menunjukkan “ketidaksenangan” Allah atas ekspresi malaikat yang ingin menonjolkan dirinya sebagai sosok yang lebih baik daripada Adam. Kesan ingin menonjolkan kesalehan diri itu bisa dimaknai sebagai symbol “kesombongan tersembunyi” dari malaikat di hadapan Allah subhanahu wata'ala. Itu sebabnya mengapa Allah secara tegas mengatakan kepada mereka bahwa “Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” yang menggambarkan kekeliruan malaikat pada saat itu. Untuk membuktikan kekeliruan malaikat itu, Allah mengajarkan Adam alaihis salam pengetahuan (وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْهَآءَ)  dan menunjukkan bahwa pengetahuan Adam berbeda dengan pengetahuan yang dimiliki oleh para malaikat; dan itu yang membuat Adam menjadi layak dan lebih pantas menjadi khalifah di atas bumi.

Meskipun malaikat pada awalnya mempertanyakan kapasitas Adam untuk menjadi khalifah, tetapi pada akhirnya para malaikat ini tetap sujud kepada Adam sebagai bentuk penghormatan ketika Allah memerintahkan mereka untuk sujud.

Berbeda dengan Iblis. Di saat para malaikat sujud kepada Adam, Iblis tetap bersikukuh untuk tidak sujud. Pembangkangan Iblis ini direkam dalam Qur'an Surah Al Baqarah ayat 34 dan Surat Shad ayat 74 dan sikap Iblis ini secara tegas disebut oleh Allah sebagai bentuk kesombongan, sebagaimana disebutkan dalam: 
QS. Al-Baqarah: 34:
فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَۖ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ
dan QS. Shad: 74:
اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اِسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ

Hal lain yang membedakan antara malaikat dengan Iblis adalah pada substansi penolakan keduanya terhadap Adam alaihis salam. Malaikat mempertanyakan Adam pada kelayakan dan kapasitas dirinya sebagai khalifah; sedangkan Iblis menolak sujud kepada Adam karena alasan unsur material penciptaan Adam. Dengan angkuhnya Iblis berkata kepada Allah, sebagaimana terekam dalam Qur'an Surah Shad ayat 76:

قَالَ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّارٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ

Artinya : (Iblis) berkata, “Aku lebih baik darinya, karena Engkau menciptakanku dari api, sedangkan Engkau menciptakannya dari tanah” (QS. Shād [38]: 76).

Iblis menyombongkan dirinya karena terbuat dari api dan menganggap Adam yang terbuat dari tanah lebih rendah dibanding dirinya. Malaikat menampilkan kesan kesombongan tapi tidak vulgar dan demonstratif, sedangkan Iblis mempertontonkan kesombongannya dihadapan Allah secara terang-terangan.

Hadirin yang dimuliakan Allah.
Dramaturgi Sang Khalifah ini mengajarkan kita beberapa hal. Pertama, Dosa purba makhluk kepada Allah adalah kesombongan. Sebelum kehadiran Adam alaihis salam, malaikat dan Iblis adalah dua sosok makhluk yang sangat taat beribadah kepada Allah subhanahu wata'ala.

Kedua, bentuk kesombongan itu bisa jadi dalam bentuk kesombongan tersembunyi yang disebut sebagai “ujub” atau kesombongan yang dipertontonkan yang disebut sebagai “istikbar/takabbur”. Dalam ajaran agama kita, kedua bentuk kesombongan ini sangat tidak disukai oleh Allah subhanahu wata'ala. Iblis yang secara terang-terangan mempertontonkan kesombongannya pada akhirnya dilaknat oleh Allah hingga hari kiamat. Sedangkan kesombongan yang tersembunyi, sangat diwanti-wanti oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sabdanya:

لَوْ لَمْ تَكُوْنُوْا تُذْنِبُوْنَ خَشِيْتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ الْعُجْبَ
Artinya : “Seandainya kalian tidak melakukan dosa, aku tetap khawatir terhadap kalian akan sesuatu yang lebih besar daripada berdosa, yaitu ujub (membanggakan diri)”

Ketiga, merupakan ketidakpantasan bagi seorang makhluk menyombongkan dirinya di hadapan Allah atau kepada sesama makhluk lainnya. Kesalehan spiritual – sebagaimana ekspresi malaikat – bukanlah sesuatu yang layak disombongkan di hadapan Allah. Apalagi kesombongan karena alasan-alasan bersifat fisik dan materil – sebagaimana ditunjukkan oleh Iblis – tidak pantas menjadi alasan untuk merendahkan orang lain. Entah karena harta, karena pangkat dan jabatan, karena garis keturunan, karena keindahan fisik, atau karena alasan apapun lainnya. Semua makhluk pada awalnya adalah sama di hadapan Allah, dan diciptakan oleh Allah dengan penciptaan yang terbaik QS. As-Sajadah ayat 7 : الَّذِيْٓ اَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَه semua manusia pada awalnya dimuliakan oleh Allah (QS. Al-Isra’: 70); semua manusia pada awalnya adalah hamba yang bertauhid (QS. AlA’raf: 172); yang membedakan kita di hadapan Allah adalah kualitas takwa kita, tetapi itupun bukan untuk disombongkan.

Keempat, kesombongan bisa bermula dari sebuah kalimat yang sederhana, yaitu “ اناخيرمنه /saya lebih baik daripada dia”. Kalimat ini ringan diucapkan sehingga seringkali tanpa sadar kita terjebak pada perasaan “lebih baik” tersebut, dan pada akhirnya menyeret kita jatuh pada kesombongan.

Hadirin yang dimuliakan Allah.
Kita belajar dari dramaturgi di atas dan bermohon semoga Allah subhanahu wata'ala senantiasa menjaga kualitas batin kita agar tidak terjebak dan terpenjara dalam kesombongan, apapun bentuknya. Semoga bermanfaat buat kita semua. (RIZKI/ HUMAS DAN MEDIA MASJID ISTIQLAL)

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.