Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jum'at : Teramat Besar Cinta Rasulullah SAW Kepada Umatnya

Admin 09 Oct 2023 Warta Istiqlal

Oleh : Dr.KH. Imam Addaruqutni, MA (Wakil Rektor IV Universitas PTIQ Jakarta)

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Di antara tema penting dalam ajaran Islam (al-Qur’an) dan yang dilakukan, disampaikan. dan diisyaratkan oleh Rasulullah (dalam Al-Sunnah al-Nabawyah al-Shahihah) adalah mahabbah atau cinta, kecintaan dan kasih sayang.

Pernyataan yang selalu kita lafadkan ketika memulai pekerjaan berbunyi: bismillahir rahmaanir rahiim adalah kesaksian kita semua bahwa Allah subhanahu wata'ala sangat mencintai hamba-bamba-Nya yang sekaligus menegaskan bahwa mahabbah, cinta dan kasih sayang merupakan tema penting dalam Islam (sebagaimana tersebut dalam al-Qur’an).

Bahkan cinta dan kasih sayang merupakan masalah ultimate bagi manusia karena semenjak terwujudnya manusia, lahir dan hidupnya, sampai dengan kematian dan kelanjutan hidupnya di akherat maupun penyiapan syurga atau jannatun na’im sebagai bakal tempat tinggal yang abadi bagi semua umat manusia yang memahami dan mengamalkan cinta dan kasih sayang sebagaimana yang diajarkan kepada kita oleh Allah SWT dan Rasul-Nya, semuanya ini melekat dengan pesan cinta dan kasih sayang Allah SWT.

Allah SWT bahkan menyampaikan pesan kepada pribadi agung Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang menandai mahabbah atau kecintaan kita kepada Allah SWT dengan mengikuti dengan penuh loyalitas kepada Nabi Muhammad SAW dengan cara mengikuti apa yang diajarkan dan dicontohkan beliau kepada umatnya.

Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam QS Ali Imran ayat 31,

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya : Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran : 31).

Selain ayat tersebut masih banyak lagi ayat yang mengkhabarkan tentang kecintaan kepada hamba-Nya.

Di sampaing al-Qur’an, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga sangat mencintai umatnya. Betapa Rasulullah sangat mencitai umatnya sehingga beliau mengajarkan kecintaan bahkan kecintaan yang tidak hanya terbatas kepada sesama manusia melainkan juga kecintaan manusia kepada seluruh makhluk di muka bumi.

Ini berarti bahwa kecintaan kepada sesama makhluk, terlebih-lebih kepada sesama manusia, telah menjadi semacam citra warna dan cita rasa yang hidup dan aktif (sibghah) yang seharusnya memberikan makna tambahan dalam kehidupan setiap pribadi.

Kita renungkanlah betapa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memantabkan kepada seluruh umatnya untuk mementingkan hidup dan aktifnya kecintaans sebagai etos kehidupan. Sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana diriwayatkan oleh ImamTirmidzi dalam Musnadnya, hadits nomor 1924 :

إرحموا مَن في الأ ض ير حمكم مَن في السماء

Artinya : “Sayangilah siapa saja yang ada di muka bumi ini niscaya Yang di langit pun akan menyayangi kamu juga”.

مَن لا يَر حم لا يُر حم

Artinya : “Yang tidak ada rasa cinta dan kasih sayang (atas sesama) tidak akan merasakan indahnya cinta dan kasih sayang dari sesama.”.

Kecintaan Nabi Muhammad kepada Umatnya.

Hidup Nabi Muhammad bahkan semejak masa kecil dan masa mudanya ditempuh kondisi yatim dan piyatu (kehilangan ayah dan ibu). Muhammad kecil mendapat kasih sayang dari kakek dan pamannya.

Ketika melihat tingkah senang dan gembira dari anak-anak sebayanhya tatkala dibersamai oleh para orang tuanya, kiranya justru menumbuhkan kesan dan citra tersendiri betapa cinta dan kasih saying (mahabbah) merupakan sesuatu yang paling ultimate dalam hidup bermakna.

Kematian kakek yang selama ini dirasakan sebagai yang menyayangi kiranya semakin mengesankan bahwa cinta atau kecintaan (mahabbah) itu akan mempu mewujudkan kehidupan berbudaya berperadaban dan seterusnya sampai bersama pamannya (Abu Thalib) Muhammad remaja sampai dewasa menapaki perjalan hidup dengan segala pengalaman manis, getir dan pahitnya (romantika kehidupan) sampai kemandiriannya semuanya tetap terbangun di atas cinta/kecintaan yang benar dan besar. Pada masa Kenabian, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan telah mengutamakan mahabbah (besarnya kecintaan) beliau bagi umatnya.

1. Hadits Riwayat Muslim, Nabi Muhammad secara tak terduga berujar kepada Abu Bakr: “hai Abu Bakar, kok aku begitu merindu untuk bisa bertemu dengan saudara-saudaraku” Abu Bakar menjawab: “apa maksudmu ya Rasulullah, bukankah kami ini semua saudara-saudaramu?”

Rasulullah SAW bersabda: “Kamu semua adalah para sahabatku, bukan saudaraku. Saudaraku adalah yang belum pernah melihatku apalagi menemaniku dan bersamaku, tetapi mereka beriman kepadaku”.

Para sahabat pada bertanya bagaimana Nabi tahu kalau di antara yang mengantri ke syurga adalah umatnya. Jawab Nabi SAW: “Ya karena sebenarnya umatku pada hari Qiyamat nanti akan datang dengan wajah dan ujung tangan serta kakinya bersinar sebagai bekas berwudhu semasa hidupnya”. Nabi SAW melanjutkan: “ada yang bersinar berseri-seri wajahnya dengan bajunya dan disiapkan mimbar untuk mereka”. Lalu para sahabat ingin tahu siapa mereka? Jawab Nabi SAW:“mereka adalah yang mampu saling mencinta sesama karena Allah”.

2. Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga selalu menyimpan doa dalam setiap doa yang beliau sampaikan ke hadirat Allah SWT demi kebahagiaan umatnya di akherat kelak. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ingin umatnya dalam kesusahan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu menanyakan kesehatan siapa pun dari sahabatnya yang tak terlihat hadir dan menjenguknya jika sakit. Bahkan berpesan kuat bagi umatnya untuk selalu kasih sayang sesamanya dan bersabar dalam kesusahan dan kesempitan dengan tidak lupa banyak bersyukur.

3. Pada hari Qiyamat kelak, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga berdiri tegak menunggui umatnya seraya memohonkan ke hadirat Allah SWT untuk mengampuni dosa dan salah dari umatnya dan menunggui sampai yang terakhir masuk syurga. Itu adalah tanda syafa’at Nabi yang dikabarkan akan diberikan kepada kita semua. Nabi Muhammad tidak akan pernah meninggalkan umatnya.

4. Kisah nyata yang belum lama terjadi yang dipercayai sebagai mukjizat yang menggemparkan adalah ketika seorang anak kecil dari keluarga Nasrani di Lebanon yang ikut keramaian peringatan Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersama teman-teman sepermainannya bercampur dengan kerumunan dimana jamaknya sementara kelompok orang dewasa/senior masyarakat di sana terbiasa dengan senapan laras panjang di tangan.

Dalam hingar-bingar kesyukuran itu kemudian disertai dengan letupan tembakan senapan ke udara. Secara tak terduga salah satu peluru benar-benar menerjang kepala seorang anak kecil tersebut. Dengan segera diusung ke rumah sakit.

memberi rujukan ke rumah sakit yang lain. Ibu dari anak itu mengikuti anaknya yang malang itu sampai di rumah sakit kedua tetapi dengan kondisi serius di UGD, rumah sakit itu menyatakan ketidaksanggupannya karena peluru menembus tepat di tengkorak kepala anak itu.

Sang ibunya tiba-tiba berseru keras sekuat suaranya sambal menangis merangkul anaknya: “Wahai Muhammad yang mengaku sebagai nabi… dimanakah kau… lihatlah anakku ini yang menderita ini... tahukah kamu kalau kami menderita karenamu wahai Muhammad...tahukah kamuu... sambil menangis meraung. Semua orang yang ada di sekeliling tak berdaya untuk menghiburnya.

Tetapi tanpa diduga sang anak yang tidak mungkin tertolong oleh tindakan medik tersebut tiba-tiba terbangun siuman sambil berkata-kata: “dimana kau... dimana kau... dengan melihat ibunya dia bertanya: ibu... dimanakah dia bu... dimanakah dia? Ibunya terkejut dan merangkul erat anaknya sambal menangis dan melihat seksama ke anaknya dan menjawab… siapa naak... siapa dia yang kau tanyakan… ini ibumu nak… sang anak menyambung: ya ibu, dimana dia...di mana dia? Dia siapa nak, kata ibunya. Si anak menjawab: dia Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang tadi datang mengusap kepalaku ibu… Muhammad datang mengusap kepalaku. Sang ibu bertambah keras menangisnya dan meraung... seraya mengikrarkan kalimah: Laa ilaha illallah… Laa ilaaha illallah Muhammadur rasulullah. Asyhadu an-laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulu’llah.

Kisah ini membuktikan di antara besarnya kecintaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umatnya dan kepada siapapun di bumi sebagaimana hal itu diajarkan ke kita.

Kesimpulan bahwa mahabbah atau kebenaran cinta yang benar akan mampu mengarahkan seluruh spektrum kehidupan baik pribadi maupun Masyarakat menjadi damai sejahtera 
dan mewujudkan kebagagiaan.

Mahabbah atau kebesaran dan kebenaran cinta Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umatnya telah mengubah seluruh lingkup (spektrum) kehidupan di khususnya Makkah dan Madinah pada zamannya dari yang semula berbudaya biadap menjadi beradab, runtuhnya struktur budaya jahiliyah yang semula antara ada sebutan majikan-budah (sayyid-‘abd) menjadi bersaudara antarsesamanya (ikhwah), runtuhnya pola hidup dari yang semula di mana yang kuat menindas yang lemah berubah menjadi saling menguatkan di mana yang lebih kuat menguatkan yang lemah dan memberdayakannya (empowerment).

Cinta Nabi Muhammad SAW mampu meruntuhkan budaya dimana ego-primordialisme atau kesombongan dan rasa keperwiraan antarkabilah yang justru di antara penyebab pertumpahan darah antarsuku menjadi semacam bangsa yang bersatu padu dan saling menghormat dalam tetap tegaknya keberagaman suku dan Bahasa dan ras.

Negara dan Bangsa kita Indonesia, insya Allah juga akan lebih kuat, dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan jika mampu meneladani mahabbah atau besarnya cinta Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kecintaan atau mahabbah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam jika kita amalkan justru akan semakin memahamkan kepada kita akan pentingnya tagar bangsa Bhinneka Tunggal Ika di mana cinta atau Mahabbah Nabawiyah menjadi jiwa dan spiritnya. 

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.