Foto: Dok. Media Istiqlal

KH Nassarudin Umar: Memahami QS Al Baqarah

Admin 29 Jan 2024 Warta Istiqlal

Jakarta, www.istiqlal.or.id – Dalam Kajian Istighasah Malam Jum’at dengan bahasan Surah Al-Baqarah, Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. KH. Nasaruddin Umar, MA, memaparkan mengenai QS Al-Baqarah, asal-usul dan keutamaannya.

QS. Al-Baqarah merupakan surah yang memiliki ayat terbanyak dalam Al-Qur’an yaitu sebanyak 286 ayat. Surah ini masuk dalam golongan Madaniyah di mana ayat-ayatnya diturunkan di Madinah.

Asal usul penamaan QS. Al-Baqarah ini disebabkan dalam lantunan ayatnya terdapat cerita mengenai sapi, yaitu pada ayat 67 sampai dengan 71. Awalan surah ini dibuka dengan huruf al muqaththa’ah berbunyi (الم).

Surah ini sangat istimewa, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, Dari Abdullah bin Mas’ud ra secara marfu’:

“Sesungguhnya pada segala sesuatu memiliki puncak, dan puncak Al Quran adalah surah Al Baqarah. Sesungguhnya syaitan jika mendengar surah Al Baqarah dibacakan, dia akan keluar dari rumah yang di dalamnya dibacakan surah Al Baqarah.” (Riwayat Imam Al Hakim)

Dalam keutamaan yang terkandung orang yang membaca QS. Al-Baqarah akan mendapatkan pahala besar dan disebut Fusthathul Qur’an atau kemah besar Al-Qur’an.

Dalam Riwayat lainnya Rasulullah SAW bersabda tentang keutamaan QS. Al-Baqarah: “Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: Jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan (tanpa bacaan Al-Qur’an) sebagaimana setan akan lari dari rumah yang senantiasa dibacakan surah Al-Baqarah”. (HR. Ahmad, Muslim, At-Tirmidzi dan An Nasa’i dengan matan serupa).

Memahami surah Al-Baqarah sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat 1-4 yang berbunyi:

الۤمّۤ ۚ (1) ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ (2) الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ ۙ (3) وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَۗ (4)

Artinya: “Alif Lam Mim. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa,  (yaitu) orang-orang yang beriman pada yang gaib, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman pada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad) dan (kitab-kitab suci) yang telah diturunkan sebelum engkau dan mereka yakin akan adanya akhirat.” (QS. Al-Baqarah ayat 1 s.d. 4)

Dalam memahami setiap kekayaan makna dan pesan yang tersembunyi di dalamnya, huruf-huruf muqaththa'ah yang disebutkan pada awalan ayat surah Al-Baqarah seperti Alif Lam Mim (الم) yang menjadi objek penelitian dan meditasi. Melalui kajian ini, dapat meresapi esensi dari setiap huruf, membuka tirai rahasia dan menggali makna yang terkandung di dalamnya.

Huruf pertama, Alif (ا), adalah singkatan dari الله yang menunjukkan pada nama al-Jalālah. Sebagai makhluk Allah SWT memahami bahwa manusia bergantung pada Allah sebagai Tuhan yang menciptakan mereka, sementara Dia berdiri sendiri dan tidak memerlukan siapapun. Alif disifati dengan al-infirād yang menekankan perlunya bergantung pada Sang Pencipta yang memiliki ketergantungan hati (infirad al-Qalb) terhadap-Nya.

Lanjut ke huruf berikutnya adalah huruf Lam (ل), yang merupakan singkatan dari اللطيف (al-Latif) atau Maha Lembut. Hamba Allah SWT diharapkan menjaga kelembutan hati dalam memelihara hak-hak Allah SWT. Ini adalah panggilan untuk menjalani kehidupan dengan penuh kelembutan dan kesadaran akan kehadiran-Nya.

Mim (م) sebagai huruf terakhir yang mewakili المجيد (al-Majid) atau Maha Mulia. Seorang hamba, ketika mendengar huruf mim diharapkan menyelaraskan perilakunya dengan apa yang dituntut oleh Allah subhānahu wata'āla. Ini adalah panggilan untuk menjalani hidup dengan kemuliaan dan mempertahankan martabat diri sebagai hamba-Nya.

Ketika huruf-huruf ini digabungkan dalam Alif Lam Mim (الم), manusia menyaksikan pembukaan dari 29 huruf hijaiyah yang mencerminkan nama-nama Allah, nikmat-Nya, kelembutan-Nya dan kemuliaan-Nya. Setiap huruf adalah pembuka dari nama-Nya seperti Alif untuk Allah, Lam untuk Lutf Allah dan Mim untuk Majd Allah.

Menginterpretasikan اللم sebagai أنا (saya), الله (Allah) dan أعلم (lebih mengetahui) manusia dapat menyimpulkan bahwa pesan dalam huruf-huruf ini adalah "Saya Allah lebih tahu". Posisi alif dalam makhārij al-huruf yang terletak paling bawah dari tenggorokan menandakan asal mula dari insan kamil yang bermula dari identitas gaib mutlak.

Dalam konteks al-Hadharat al-Khamsah atau kehadiran suatu alam pada alam yang lain dan timbulnya keharmonisan antara satu alam dengan alam lainnya) yang mencakup Ahadiyyah, Wahidiyyah, Alam Jabarut, Alam Malakut dan Alam Syahadah menjadikan huruf-huruf ini sebagai manifestasi dari identitas mutlak. Al-Hadarat al-Ahadiyah diinterpretasikan sebagai manifestasi identitas mutlak dengan menyoroti lahirnya kata sebagai manifestasi dari gabungan huruf-huruf.

Sebagai penutup, kita memasuki maktabah al-Arwāh, pergerakan dari entitas spiritual menuju martabat fisik melalui maktabah al-ajsām yang diumpamakan dengan huruf mīm. 'Alam al-mitsal yang berada di antara 'alam al-arwah dan 'ālam al-ajsām menjadi 'alam al-barzakh atau alam perantara.

Pesan yang terkandung dalam Al-Qur’an terbagi menjadi al-'ibārah, al-isyārah, al-Lathāif dan al-Haqaiq ditujukan kepada berbagai kelompok hamba sesuai dengan tingkat pemahaman dan kedalaman spiritual manusia. Al-Quran mengandung makna yang dalam dan rahasia yang menyentuh hati setiap hamba-Nya. (ZAHRA/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
 

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.