JAKARTA, www.istiqlal.or.id — Wakil Presiden RI ke-10 dan 12, Prof. Dr. (H.C.) KH. Ma'ruf Amin, memberikan orasi ilmiah dalam pengukuhan wisudawan Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI) di Masjid Istiqlal, Jakarta.
Dalam orasinya, KH Ma'ruf Amin menegaskan kaidah bahwa ulama adalah pewaris para nabi (al-ulama'u waratsatul anbiya'). Oleh karena itu, tugas utama seorang ulama adalah melanjutkan warisan tugas nabi dengan melaksanakan Mitsaq Rabbani (komitmen dengan Allah SWT) untuk mengajak manusia ke jalan Allah (ad-da'wah ila manhajillah).
Beliau menekankan bahwa pelaksanaan Mitsaq Rabbani ini tidak boleh meniadakan atau dipertentangkan dengan Mitsaq Watani (kesepakatan berbangsa dan bernegara) maupun Mitsaq Insani (kesepakatan sesama manusia).
"Antara Mitsaq Rabbani dan Mitsaq Watani tidak saling menafikan (la munafata bainahuma). Ajaran Islam adalah rahmatan lil 'alamin yang tentu juga rahmatan lil-Indonesiyyin. Begitu pula Pancasila dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa, tidak mencederai Mitsaq Rabbani," ujar KH Ma'ruf Amin.
Menghadapi Tahwilat, Inhirafat, dan 'Setan Gepeng'
KH Ma'ruf Amin menggarisbawahi bahwa menjalankan Mitsaq Rabbani tidaklah linier, melainkan penuh tantangan gerakan pembelokan (tahwilat) dan penyimpangan (inhirafat). Fenomena pergeseran nilai masyarakat yang mengabaikan kebenaran demi menuruti selera ini bahkan sudah digambarkan dalam kitab I'anatu Ath-Thalibin sejak 100 tahun lalu.
"Apalagi sekarang, di mana terdapat 'setan gepeng' atau media sosial yang membawa banyak distorsi informasi dan kebenaran," seloroh KH Ma'ruf Amin.
Beliau mengingatkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ pun pernah digoda oleh kaum kafir untuk sedikit berpaling dari wahyu Allah. Namun, Allah membentenginya dengan 'asmah rabbaniyyah dan himayah rabbaniyyah. Hal ini menunjukkan bahwa para pengemban dakwah (hamalat ad-da'wah) yang mewarisi tugas nabi wajib mempersiapkan kekebalan (manna'ah) dan ketangguhan iman.
Lima Bekal Utama dan Pesan bagi Ulama Pewaris Nabi
Untuk mengemban amanah Mitsaq Rabbani dan menghadapi berbagai tantangan zaman, KH Ma'ruf Amin menegaskan lima syarat dan bekal penting yang wajib dimiliki oleh para kader ulama:
Penguasaan Ilmu yang Paripurna:
Ulama harus paham ilmu dari Allah secara mendalam dan luas (yafhamuna 'anillahi fi kulli syai), terus belajar (yasrabuna min kulli), dan mandiri hingga layak menjadi pembimbing (mursyid).
Pemahaman Situasi dan Psikologi Massa (Al-'Alim bil Hal wa Siyasat an-Nas):
Mengutip Syekh Nawawi Al-Bantani, ulama harus paham keadaan zaman dan psikologi masyarakat agar ajaran Islam menyampaikan rasa merangkul, bukan menjauhkan. Paham kapan harus bersikap lembut (yalin) dan kapan harus tegas (yaghludh).
Kepekaan dan Ketajaman Batin (Al-Yaqadhah wal Basirah):
Mengutip Iqadhul Himam, ulama dituntut jeli membaca arus pemikiran, geopolitik nasional, dan global. Ibarat burung yang bersayap kuat, ulama tak boleh lengah agar tidak menjadi korban atau instrumen dari kepentingan pihak tertentu.
Ketangguhan dan Kekebalan (Ash-Shabat wal Manna'ah):
Sebagai pemikul dakwah, ulama wajib punya resiliensi, sikap tangguh, dan konsisten (rijalun shadaqu ma 'ahadullaha 'alaih), serta kekebalan iman untuk tidak mengorbankan atau membelokkan prinsip agama dalam situasi apa pun.
Keikhlasan dan Kemurnian Niat (Al-Ikhlas: Lillah, Billah, Wafillah):
Mengutip Syekh Hamdun bin Ahmad, ucapan ulama terdahulu sangat membekas karena berniat untuk kemuliaan Islam (li 'izzatil Islam), keselamatan jiwa (najatin-nufus), dan keridaan Allah (ridhar-rahman), bukan demi popularitas (li 'izzatin-nafs), kepentingan duniawi (thalabad-dunya), atau sekadar mencari pengikut (qabulal-khalq).
Meneladani Keikhlasan Ulama Terdahulu
Di akhir orasinya, KH Ma'ruf Amin mengutip ucapan ulama tasawuf Syekh Hamdun bin Ahmad terkait alasan mengapa perkataan ulama salaf terdahulu lebih berdampak dibanding ulama masa kini.
"Ulama terdahulu berbicara untuk tiga hal: demi kemuliaan Islam (li 'izzatil Islam), keselamatan jiwa manusia (najatin-nufus), dan mengharap keridaan Allah (ridhar-rahman). Sedangkan kita sering kali berbicara untuk mempromosikan diri (li 'izzatin-nafs), mencari kepentingan dunia (thalabad-dunya), dan sekadar mencari pengikut atau follower (qabulal-khalq)," tuturnya.
Oleh karena itu, beliau berpesan agar para kader ulama senantiasa menjaga keikhlasan (lillah, billah, wafillah) dan mengemban dua tugas besar keumatan: membentengi umat (al-himayah wal wiqayah) serta meluruskan kembali mereka yang menyimpang (al-islah wal i'adah). (ASMA/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.