Jakarta, www.istiqlal.or.id - Seiring diselenggarakannya rangkaian acara International Grand Imam Conference (IGIC) 2026, di Masjid Istiqlal Jakarta, Jumat (25/9/2026), Menteri Agama yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar, menyampaikan khutbah mengenai peran strategis imam masa depan dalam merespons tantangan global melalui pendekatan diplomasi keagamaan dan ekoteologi.
Dalam khutbahnya, KH Nasaruddin menegaskan bahwa diplomasi keagamaan merupakan seni etis untuk membangun kepercayaan, meredam permusuhan, serta menemukan tanggung jawab bersama di tengah keberagaman keyakinan, bukan sekadar negosiasi antarpemerintah. Hal tersebut sesuai dengan yang Allah SWT firmankan dalam QS. Al-Nahl ayat 125 dan QS. Āli ‘Imrān ayat 64 untuk menekankan pentingnya dialog penuh hikmah melalui konsep "kalima sāwā’" (titik temu).
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
Artinya: "Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah424) dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk." (QS. An-Naḥl [16]:125)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Ahlulkitab, marilah (kita) menuju pada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, (yakni) kita tidak menyembah selain Allah, kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling, katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim.” (QS. Āli ‘Imrān [3]:64)
"Konsep "kalima sāwā’" (titik temu / kata yang sama) sangat relevan saat ini. "Titik temu" hari ini dapat mencakup perdamaian, perlindungan lingkungan, bantuan kemanusiaan, pengentasan kemiskinan, penanggulangan bencana, kesejahteraan pemuda, serta pencegahan kekerasan dan penyalahgunaan narkoba," ujar KH Nasaruddin Umar, dalam khutbahnya.
KH Nasaruddin menambahkan, kerjasama antarumat beragama tidak menuntut penyatuan doktrin teologis. Dengan merujuk nasihat Nabi Ya'qūb AS dalam Al-Qur'an surat Yūsuf ayat 67, perbedaan jalan dan pemahaman teologis adalah hal yang wajar. Namun, perbedaan tersebut tak boleh menghalangi kolaborasi untuk membela kemanusiaan dan menjaga kelestarian alam.
"Terlepas dari perbedaan-perbedaan ini, kita tetap harus menemukan titik temu dalam melindungi martabat manusia, mengurangi kemiskinan, mencegah kekerasan, membela komunitas yang rentan, dan melindungi lingkungan. Oleh karena itu, diplomasi keagamaan bukanlah pemenuhan atau pelemahan identitas keagamaan. Justru, agama adalah prinsip identitas itu sendiri. Ini merupakan ekspresi dari kedewasaan beragama," terang KH Nasaruddin.
"Seorang mukmin yang percaya diri dapat tetap teguh pada imannya sambil memperlakukan orang lain dengan adil, santun, dan penuh kasih sayang," tegas KH Nasaruddin.
Krisis Iklim Juga Bagian dari Tanggung Jawab Teologis
Terkait isu ekoteologi, KH Nasaruddin mendorong lembaga-lembaga keagamaan seperti masjid, gereja, pesantren, dan sekolah untuk bertransformasi menjadi pusat gerakan ekologis demi mewujudkan ekoteologi sebagai proyek pembangunan peradaban.
"Perubahan iklim, lautan yang tercemar, kebakaran hutan, kelangkaan air, dan hilangnya keanekaragaman hayati tidak mengenal batas-batas negara maupun agama. Umat Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Yahudi, komunitas adat, dan pemeluk tradisi lainnya menghuni planet yang sama. Ini adalah titik yang sangat krusial bahwa kemanusiaan itu hanya satu. Allah SWT menciptakan manusia dengan nilai kemanusiaan yang sama persis," papar KH Nasaruddin.
"Komunitas agama memiliki sumber daya moral yang sangat besar. Masjid, gereja, kuil, biara, pesantren, sekolah, universitas, dan organisasi keagamaan menjangkau jutaan orang. Bayangkan jika lembaga-lembaga ini menjadi pusat transformasi ekologis: menghemat air, mengurangi sampah, menanam pohon, menggunakan energi bersih, mengajarkan etika lingkungan, dan bekerja sama lintas batas agama. Maka ekoteologi tidak lagi sekadar menjadi gagasan atau konsep semata. Ini akan menjadi proyek pembangunan peradaban," tambah KH Nasaruddin.
Sebagai pamungkas khutbahnya, KH Nasaruddin juga menyoroti evolusi peran imam di era modern. Menurutnya, imam masa depan tidak hanya bertugas memimpin ritual ibadah, tetapi juga harus hadir sebagai bridge-builder (pembangun jembatan), pendidik perdamaian, dan diplomat masyarakat.
"Secara tradisional, imam dipahami terutama sebagai sosok yang memimpin shalat, mengajarkan Al-Qur'an, menyampaikan khotbah, dan membimbing kehidupan moral umat Islam. Fungsi-fungsi ini tetap penting. Namun di dunia yang saling terhubung dan sering kali terpecah belah saat ini, imam semakin dituntut untuk menjadi sesuatu yang lebih, yaitu seorang pembangun jembatan (bridge-builder), pendidik perdamaian, diplomat masyarakat, dan perwakilan Islam di ruang publik yang lebih luas," jelasnya.
Maka, pesan KH Nasaruddin, imam masa depan harus tetap berakar kuat pada Al-Qur'an dan Sunnah, sekaligus memahami masyarakat, media, resolusi konflik, urusan internasional, dan keragaman budaya. Otoritasnya tidak boleh terbatas pada kepemimpinan ritual saja. Otoritas tersebut juga harus berkontribusi pada perdamaian sosial. "Seorang imam yang membangun jembatan tidak sedang mengompromikan Islam. Sebaliknya, ia membantu menunjukkan Islam sebagai raḥmatan lil-ʿālamīn, rahmat bagi semesta alam." (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Muh. Asdar
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.