Oleh : KH. Abu Hurairah Abdul Salam, Lc., MA
Setiap kali berbicara tentang Nabi Muhammad saw, kita hampir selalu berbicara tentang cinta. Kita membaca shalawat, memperingati Maulid, mengisahkan perjuangan beliau, mengenang akhlaknya, dan menyebut namanya dengan penuh penghormatan. Semua itu merupakan bentuk kecintaan yang baik.
Namun ada satu pertanyaan yang patut kita ajukan kepada diri sendiri: apa sesungguhnya yang berubah dalam kehidupan kita setelah kita menyatakan cinta kepada Rasulullah saw?
Pertanyaan ini penting, sebab mencintai Nabi tidak cukup hanya dengan menyebut namanya. Cinta kepada Nabi seharusnya melahirkan keteladanan. Dan salah satu warisan terbesar Rasulullah saw adalah kemampuannya mempersatukan manusia yang berbeda.
Nabi Muhammad saw hadir di tengah masyarakat yang penuh dengan perbedaan dan konflik. Perbedaan suku, kabilah, status sosial, kepentingan, bahkan keyakinan, merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Arab ketika itu. Fanatisme kesukuan dapat dengan mudah berubah menjadi permusuhan. Perselisihan kecil dapat berkembang menjadi pertikaian panjang.
Di tengah kondisi seperti itu, Rasulullah saw tidak datang untuk memperbesar sekat-sekat perbedaan. Beliau justru membangun jembatan di antara manusia.
Al-Qur'an menegaskan bahwa salah satu prinsip penting kehidupan umat adalah berpegang teguh kepada tali Allah dan tidak bercerai-berai: ُ
“Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali 'Imran: 103)
Ayat ini bukan sekadar seruan untuk berkumpul secara fisik. Ia merupakan panggilan untuk membangun persaudaraan dan menghindari perpecahan yang lahir dari ego, fanatisme, dan kepentingan kelompok.
Salah satu keberhasilan penting Rasulullah saw adalah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Ansar. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda. Mereka tidak memiliki sejarah kehidupan yang sama. Tetapi Nabi membangun ikatan yang lebih kuat daripada sekadar hubungan kesukuan.
Persaudaraan itu tidak berhenti pada slogan. Ia diwujudkan dalam kepedulian, solidaritas, dan kesediaan untuk berbagi.
Inilah salah satu pelajaran penting dari kehidupan Rasulullah saw yaitu persatuan tidak berarti menghapus perbedaan. Persatuan berarti mampu mengelola perbedaan agar tidak berubah menjadi permusuhan.
Nabi tidak menjadikan semua orang harus menjadi sama terlebih dahulu untuk dapat hidup bersama.
Di Madinah, Rasulullah saw juga membangun kehidupan masyarakat yang terdiri atas kelompok- kelompok dengan latar belakang yang berbeda. Piagam Madinah menunjukkan upaya membangun tatanan kehidupan bersama berdasarkan kesepakatan, tanggung jawab, dan perlindungan terhadap kehidupan masyarakat.
Karena itu, ketika berbicara tentang Rasulullah saw, kita tidak hanya menemukan seorang pemimpin agama, tetapi juga seorang pembangun masyarakat yang mampu mengubah konflik menjadi kehidupan bersama.
Pelajaran tersebut sangat relevan bagi Indonesia. Bangsa kita adalah bangsa yang sangat beragam. Kita berbeda suku, bahasa, budaya, tradisi, organisasi, pilihan sosial, dan cara memahami berbagai persoalan. Bahkan dalam satu agama pun terdapat beragam mazhab, organisasi, tradisi, dan corak pemikiran.
Perbedaan itu bukan sesuatu yang harus kita takuti. Yang perlu kita khawatirkan adalah ketika perbedaan berubah menjadi permusuhan.
Hari ini kita mudah menemukan orang yang merasa kelompoknya paling benar, sementara kelompok lain dianggap tidak layak dihargai. Perbedaan pilihan dapat berubah menjadi saling mencaci. Perbedaan pandangan keagamaan dapat berubah menjadi saling menyalahkan. Bahkan persoalan yang seharusnya dapat diselesaikan dengan dialog terkadang justru diperbesar oleh ego dan fanatisme.
Dalam situasi seperti itu, pertanyaan tentang keteladanan Nabi menjadi semakin penting. Apakah cara kita memperlakukan orang yang berbeda sudah mencerminkan akhlak Rasulullah saw? Sebab Rasulullah saw mengajarkan bahwa kekuatan uma t bukan terletak pada kemampuan untuk memenangkan perdebatan, tetapi pada kemampuan menjaga persaudaraan.
Kita perlu belajar membedakan antara perbedaan pendapat dan permusuhan. Berbeda pendapat adalah sesuatu yang manusiawi. Bahkan dalam sejarah pemikiran Islam, perbedaan pendapat telah menjadi bagian dari dinamika keilmuan. Para ulama berbeda dalam memahami persoalan tertentu, tetapi perbedaan tersebut tidak selalu menghilangkan penghormatan satu sama lain.
Yang menjadi persoalan adalah ketika pendapat pribadi berubah menjadi ukuran tunggal untuk menilai seluruh manusia. Kita merasa bahwa karena berbeda dengan kita, seseorang pasti salah. Karena tidak mengikuti tradisi kita, ia dianggap tidak baik. Karena berbeda dalam pilihan organisasi, ia dianggap tidak sejalan. Karena berbeda cara memahami persoalan keagamaan, persaudaraan pun seolah harus berakhir.
Padahal, tidak semua yang berbeda harus dimusuhi. Kita dapat berbeda dalam hal tertentu dan tetap bersaudara dalam hal yang lebih besar. Inilah kedewasaan yang perlu dibangun dalam kehidupan umat.
Jika kita membaca perjalanan dakwah Rasulullah saw secara lebih luas, kita akan melihat bahwa salah satu benang merahnya adalah membangun persaudaraan manusia.
Al-Qur'an menyebut: َ
“Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)
Rahmat berarti menghadirkan kebaikan, perlindungan, kedamaian, dan kemaslahatan. Karena itu, dakwah tidak semestinya hanya diukur dari seberapa banyak orang yang berhasil kita kalahkan dalam perdebatan.
Dakwah juga harus diukur dari seberapa banyak hati yang berhasil kita dekatkan, seberapa banyak konflik yang dapat kita redakan, dan seberapa banyak manusia yang merasakan kehadiran Islam sebagai rahmat.
Rasulullah saw tidak mengajarkan kita untuk mencari-cari alasan agar orang lain menjadi musuh. Sebaliknya, beliau mengajarkan bagaimana membangun kehidupan bersama dengan tetap memegang teguh prinsip agama. Ada ironi yang perlu kita renungkan. Kadang-kadang kita sangat bersemangat membela Nabi saw, tetapi cara kita membela beliau justru tidak mencerminkan akhlak beliau. Kita marah ketika nama Nabi dianggap tidak dihormati, tetapi kita sendiri mudah merendahkan sesama Muslim.
Kita berbicara tentang cinta Rasul, tetapi tidak mampu memaafkan kesalahan saudara. Kita rajin membaca sejarah perjuangan Nabi, tetapi belum mampu meneladani kesabaran dan kelembutan beliau. Kita memperingati Maulid Nabi, tetapi setelah acara selesai, perpecahan tetap kita pelihara.
Tentu saja, menjaga kemuliaan agama dan menghormati Nabi merupakan kewajiban. Tetapi pembelaan terhadap Nabi semestinya dilakukan dengan cara yang mencerminkan nilai-nilai yang beliau ajarkan. Jangan sampai kita merasa sedang membela Rasulullah saw, tetapi pada saat yang sama justru menjauh dari akhlak Rasulullah saw.
Persatuan juga tidak boleh dipahami sebagai tuntutan agar semua orang memiliki pendapat yang sama. Indonesia tidak membutuhkan keseragaman. Indonesia membutuhkan kemampuan hidup bersama dalam keberagaman. Demikian pula umat Islam.
Kita dapat memiliki perbedaan pemikiran, tradisi, dan pendekatan, tetapi tetap memiliki titik temu yang jauh lebih besar. Kita sama-sama menyembah Allah. Kita sama-sama mengimani Al-Qur'an. Kita sama-sama mencintai Rasulullah saw. Kita sama-sama membutuhkan kedamaian. Dan kita sama-sama memiliki tanggung jawab menjaga kehidupan umat dan bangsa.
Maka jangan sampai perbedaan kecil membuat kita melupakan persamaan yang jauh lebih besar. Rasulullah saw telah memberikan teladan bahwa masyarakat yang beragam tetap dapat dibangun menjadi masyarakat yang bersatu ketika setiap pihak bersedia menahan ego, menghormati kesepakatan, dan mengutamakan kemaslahatan bersama.
Mungkin inilah makna penting menjadikan momentum Rabiul Akhir sebagai ruang untuk merenungkan kembali keteladanan Nabi. Maulid telah berlalu. Shalawat telah dilantunkan. Ceramah telah disampaikan. Tetapi keteladanan Nabi jangan berhenti di atas panggung.
Bawalah Rasulullah saw pulang ke rumah kita. Bawa kelembutan beliau dalam keluarga. Bawa kejujuran beliau dalam pekerjaan. Bawa keadilan beliau dalam kepemimpinan. Bawa kasih sayang beliau dalam kehidupan sosial. Bawa kebijaksanaan beliau ketika menghadapi perbedaan. Dan bawa semangat persaudaraan beliau dalam kehidupan berbangsa.
Sebab ukuran kecintaan kepada Rasulullah saw bukan hanya seberapa sering kita menyebut namanya, tetapi juga seberapa jauh akhlaknya hadir dalam diri kita.
Pada akhirnya, mungkin kita perlu bertanya kembali: Apakah kehadiran kita membuat orang lain merasa lebih dekat kepada sesama, atau justru semakin jauh? Apakah ucapan kita mendamaikan atau mempertajam konflik? Apakah dakwah kita mempertemukan atau mempertentangkan? Apakah perbedaan membuat kita belajar memahami, atau justru menjadi alasan untuk saling membenci?
Rasulullah saw datang membawa rahmat. Beliau membangun persaudaraan. Beliau mempertemukan manusia yang sebelumnya tercerai-berai. Maka, jika kita benar-benar ingin mengikuti beliau, sudah semestinya kehadiran kita juga menjadi bagian dari jalan persatuan. Karena mencintai Nabi bukan hanya tentang bagaimana kita menyebut namanya, tetapi bagaimana kita meneruskan akhlaknya.
Dan salah satu akhlak terbesar yang perlu kita warisi hari ini adalah kemampuan untuk berbeda tanpa bermusuhan, berdialog tanpa saling merendahkan, dan bersatu tanpa harus menjadi seragam. Itulah spirit kenabian yang sangat dibutuhkan bangsa ini. Nabi Muhammad saw diutus sebagai rahmat. Maka jangan jadikan kecintaan kepada beliau sebagai alasan untuk memecah; jadikanlah ia energi untuk mempersatukan.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.