Jakarta, www.istiqlal.or.id – Persidangan Kedua Majelis Cendekiawan Madani Malaysia-Indonesia (Madani Malindo) dengan bahasan tema krusial “Negara Madani dalam Konfigurasi Kemajemukan Agama”, terlaksana di Ruang VVIP Al Malik Masjid Istiqlal, Jumat (21/8/2026).
Menghadirkan Menteri Agama RI yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar dan Menteri Agama Malaysia, Zulkifli bin Hasan, persidangan ini membahas perwujudan negara Madani dalam konteks kemajemukan agama, dengan menekankan pentingnya pengakuan terhadap keberagaman, pencarian titik temu, serta kehidupan bersama secara damai.
Persidangan ini juga dilaksanakan dalam rangka memperkuat sinergi dan bersama-sama menyongsong kemajuan di berbagai bidang, dan mensyukuri hari kemerdekaan kedua negara serumpun. Yaitu Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan ke-81 pada 17 Agustus, sementara Malaysia akan merayakan Hari Kemerdekaan ke-69 pada 31 Agustus mendatang.
Menteri Agama Republik Indonesia KH Nasaruddin Umar menegaskan bahwa masyarakat Madani tidak dapat dibangun dengan memaksakan keseragaman di tengah masyarakat yang majemuk.
“Kita hidup di Indonesia dengan kemajemukan yang luar biasa. Kita tidak bisa memaksakan uniformity (keseragaman). Kita harus mencari common denominator (titik temu),” ujar KH Nasaruddin.
Di Indonesia, titik temu tersebut dapat dituju dengan Pancasila yang memiliki latar belakang agama dan kelompok yang beragam. Pancasila, kata KH Nasaruddin, tidak mencampuri dogma spesifik masing-masing agama, tetapi menjadi payung yang melindungi seluruh warga negara.
Mengutip Kemenag.go.id, KH Nasaruddin juga menekankan bahwa toleransi perlu dipahami sebagai kehidupan berdampingan secara damai, bukan mencampuradukkan keyakinan. Ia mengilustrasikan hal tersebut melalui kisah Perjanjian Hudaibiyah sebagai contoh toleransi substantif, ketika Nabi Muhammad SAW mengutamakan tercapainya substansi perdamaian dalam sebuah kesepakatan.
“Toleransi sejati bukan berarti kita mencampuradukkan akidah (sinkretisme), melainkan co-existence, hidup berdampingan secara damai,” tegasnya.
Dalam pandangannya, masyarakat Madani juga merupakan pengakuan terhadap kemajemukan. Karena itu, agama dan budaya lokal tidak perlu ditempatkan secara berhadap-hadapan, tetapi dapat diramu agar saling memperkuat.
“Kita harus bisa meramu bagaimana agama dan budaya saling memperkuat,” kata KH Nasaruddin.
Bagi KH Nasaruddin, penguatan kolaborasi antara Indonesia dan Malaysia dapat menjadi bagian dari upaya membangun kemaslahatan umat melalui gagasan dan pengalaman yang dapat dipertukarkan kedua negara.
“Kami di Indonesia, khususnya di Masjid Istiqlal, selalu terbuka untuk memperkuat kolaborasi antara Indonesia dan Malaysia demi kemaslahatan umat,” terangnya.
Sementara itu, Menteri Agama Malaysia Zulkifli bin Hasan mengatakan, konsep Madani perlu diterjemahkan dalam kehidupan masyarakat yang memiliki keragaman bangsa dan agama. Menurutnya, keberagaman dapat dirayakan dalam bingkai kesatuan dengan membangun peradaban yang berlandaskan nilai dan akhlak.
“Kita meraikan majmuk bangsa, meraikan majmuk agama, tetapi kita bersama-sama membina tamadun yang berasaskan kepada nilai dan akhlak,” ujar Zulkifli.
Ia menjelaskan, Malaysia terus berupaya mengarusperdanakan pemahaman mengenai Madani di tengah masyarakat. Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah memanfaatkan berbagai media dan teknologi untuk membantu masyarakat memahami gagasan tersebut.
Dalam konteks kemajemukan agama, Zulkifli menjelaskan pendekatan at-ta'ayush as-silmi atau hidup berdampingan secara damai. Pendekatan tersebut, kata dia, tidak hanya mengambil inspirasi dari sumber keagamaan dan sejarah Madinah, tetapi juga memadukannya dengan kearifan lokal serta kerangka kehidupan bernegara.
“Apa yang kita cuba lakukan adalah, kita memperkenalkan, mengarusperdanakan konsep at-ta'ayush as-silmi,” katanya.
Menurut Zulkifli, pendekatan tersebut dibangun melalui perpaduan antara kearifan lokal, nilai-nilai keagamaan, Sirah dan Sahifah Madinah, Rukun Negara, serta perlembagaan. Kerangka itu digunakan sebagai salah satu pijakan untuk membangun masyarakat Madani di Malaysia.
Zulkifli juga memaparkan sejumlah upaya konkret untuk memasyarakatkan gagasan Madani. Dalam beberapa bulan terakhir, Malaysia telah meluncurkan empat kampanye, yakni Sebarkan Salam (Spread Peace), Madani Membantu, Kita Kawan, dan Jom Solat.
Selain itu, ia menyebut upaya memperbanyak akses tempat ibadah di ruang-ruang publik, seperti pusat perbelanjaan, jalan raya, bandara, stasiun bus, dan sejumlah bangunan lainnya.
Di samping audensi dan diskusi mendalam mengenai penguatan pemahaman Madani yang menjunjung tinggi keadilan, inklusivitas, dan kemanusiaan, kunjungan ini juga diisi dengan tur untuk melihat langsung keindahan arsitektur Masjid Istiqlal dan melaksanakan shalat Jumat berjamaah.
Pertemuan ini diharapkan dapat mempererat persaudaraan antara Indonesia dan Malaysia serta menjadi landasan bagi kerja sama yang lebih konkrit di masa depan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam memperkuat pemahaman tentang “Negara Madani”
Hadir dalam persidangan ini para delegasi Madani Malindo antara lain Mantan Menteri Agama Indonesia Lukman Hakim Saifuddin, Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Dato’ Muzafar Shah, Ketua Pengarah Institut Kefahaman Islam Malaysia/IKIM Prof. Madya Dato’ Dr. Mohamed Azam bin Mohamed Adil, Pengurus IKIM Prof. Emeritus Dato’ Dr. Mohd Yusof Haji Othman, dan Ketua Pembina Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations/CDCC Prof Din Syamsuddin. (ASMA/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.